Hanya ingin curhat sebagai seorang mahasiswa yang sedang menunaikan tugas belajar negeri asing. Saya seringkali mendapat "cibiran" dari saudara sendiri sebangsa setanah air di dalam negeri. Entah kenapa, tetapi saya merasa ada saja yang memandang sinis bahwa saya seolah-olah sudah tidak peduli lagi dengan negara asal, Indonesia. Beberapa waktu yang lalu ada seseorang yang mengatakan bahwa saya hanya mencari keuntungan dan berorientasi hanya kepada uang. Kalau pun uang bukan lah sesuatu yang layak disebut ukuran, tapi memang kenyataannya sangat berbanding terbalik dengan kemampuan yang kita punya. Oke... mungkin uang atau materi hanya sesuatu yang klise untuk dibahas. Betapa tingginya idealisme mereka yang "mencibir" saya tidak peduli dengan nasib bangsa sendiri hingga berpaling ke lain hati. Hanya satu hal yang saya lihat, mereka bisa berkata begitu tentu karena tidak ada dalam posisi yang sama seperti yang saya rasakan. Siapa pun orangnya, akan sangat mudah mengkritik, dengan kritikan yang terkesan menjatuhkan karena mereka tidak ada dalam sudut pandang yang sama dengan orang yang mereka kritik. Contoh sederhananya adalah seperti penonton/pengamat sepak bola. Begitu asiknya mereka mengomentari kiper bodoh, wasit goblok, striker tidak becus ketika tim jagoan mereka kebobolan goal. Sementara jika mereka sendiri bermain di lapangan belum tentu lah mereka bisa melakukan se-idelal yang mereka bicarakan!
Sekedar sharing saja supaya wawasan kita terbuka (sedikit). Tahukah kamu berapa gaji seorang profesor yang sudah berdinas sekitar 40 tahun, dihitung sejak pertama kali mengajar di perguruan tinggi? Mereja ternyata hanya menerima gaji (pokok) kurang lebih Rp 2,7 juta per bulan, atau lebih sedikit tergantung kepada ukuran keluarga yang masih berada di bawah tanggungannya. Sekiranya sang profesor masih punya tanggungan anak yang kuliah satu atau dua orang, kamu bisa membayangkan betapa sulit baginya untuk mengatur budget rumah tangga. Atau, bahkan tanpa berutang, dapur bisa berhenti berasap, karena pendapatan setiap bulan benar-benar berada dalam sistem ''menghina''.
Bandingkan dengan seorang anggota DPRD di daerah yang punya PAD (Penghasilan Asli Daerah) tinggi, yang menerima gaji sekitar Rp 40 juta per bulan. Tidak peduli apakah anggota ini punya ijazah asli atau palsu yang belum ketahuan, pendapatannya sama. Sehingga pantas lah sangat banyak orang berlomba-lomba ingin jadi wakil rakyat, bahkan ada juga yang sampai menghabiskan uang ratusan hingga milyaran rupiah demi mewujudkan obsesi mereka.
Untuk menandingi perdapatan per bulan anggota DPRD yang (katanya) terhormat ini, seorang profesor harus bekerja sekitar 15 bulan, baru imbang. Inilah panorama kesenjangan yang amat buruk yang berlaku sampai sekarang di Indonesia. Jangankan dengan wakil rakyat dengan PAD tinggi, di daerah minus sekalipun, dengan pendapatan sekitar Rp 5 juta per bulan, seorang profesor botak tidak bisa menandingi.
Memang, ada sejumlah kecil profesor atau doktor yang punya penghasilan tambahan yang cukup tinggi sebagai konsultan, dosen di luar negeri, merangkap jadi anggota DPR, komisaris atau penasihat bank, ikut proyek, atau mengajar di beberapa tempat, dan lain-lain. Tetapi, standar gaji mereka, ya seperti tersebut di atas itu.
Dengan kenyataan seperti itu, mana mungkin seorang profesor punya karier akademik yang menjulang tinggi. Dana untuk beli buku sudah tersedot untuk kepentingan survival, sekadar bertahan hidup untuk kebutuhan sehari-hari sekeluarga.
Tulisan ini tidak ingin memberi kesan bahwa seorang profesor itu perlu diberi perhatian khusus. Sama sekali tidak. Tetapi makhluk yang satu ini, apalagi mereka yang mendapatkan Ph.D di luar negeri, adalah pekerja keras dengan membanting otak selama bertahun-tahun. Tugasnya kemudian adalah untuk turut "mencerdaskan kehidupan bangsa" pada tingkat perguruan tinggi.
Pemegang Ph.D setelah pulang ke Tanah Air tentu harus berpikir keras lebih dulu bagaimana agar rumah tangga bisa bertahan. Bagaimana pun itu adalah hal yang sangat wajar, karena merupakan kebutuhan yang paling mendasar dan lebih prioritas. Urusan beli buku referensi terpaksa menjadi agenda nomor sekian. Padahal tanpa buku dan jurnal, seorang pemegang PhD pasti akan kehabisan stok, tidak bisa meng-update (menyegarkan) ilmunya. Akibatnya, buku-buku terbitan puluhan tahun yang lalu dikunyah lagi untuk bahan perkuliahan.
Dengan kenyataan seperti ini, mana mungkin orang dapat berharap kualitas perguruan tinggi kita akan terbang tinggi dibandingkan dengan mitranya di negara tetangga saja. Kualitas pendidikan kita sudah terlalu jauh di bawah standar, termasuk perguruan tinggi yang biasa disebut sebagai pusat keunggulan.
Dengan rendahnya mutu lulusan kita, akan sangat kecil kemungkinan bangsa ini akan mampu bersaing pada tingkat regional untuk mengisi lapangan kerja yang terbuka lebar sebenarnya. Selain itu, kemampuan bahasa Inggris yang sangat lemah bagi lulusan kita menambah lagi daftar buruk kita untuk mampu bersaing di dunia kerja untuk perusahaan-perusahaan asing di kawasan Asia Tenggara, misalnya.
Sebagai perbandingan, di Malaysia gaji seorang profesor penuh (full professor) hampir dua kali lipat gaji anggota parlemen federal. Di Indonesia gaji seorang anggota DPR pusat sekitar 19 kali lipat gaji seorang profesor penuh per bulan. Maka, orang tidak boleh kaget lagi jika dunia akademik dan keilmuan kita semakin suram dan buram dari waktu ke waktu, sementara dunia politik kita semakin berkibar tetapi kumuh, ditambah lagi masih saja sebagian politisi DPR kita merangkap jadi calo proyek.
Masalah materi atau finansial hanya sebagian kecil dari fenomena betapa banyaknya hal "lucu" yang terjadi di negeri kita ini.
Sepulang studi umumnya para ilmuwan itu sering frustrasi karena pekerjaan mereka tidak ditopang peralatan dan orientasi ke depan. Kalau tidak percaya, silahkan berkunjung ke beberapa lembaga penelitian di Indonesia, fasilitas kerja kurang dan tidak ada dana penelitian, kasihan mereka.
Padahal tahun lalu saja anggaran China untuk mengembangkan bidang iptek mencapai 2 persen dari anggaran nasional mereka, sedangkan Indonesia hanya 0,5 persen. Jangan tanya Jepang dan Korea, mereka di atas 2 persen.
Pengiriman calon ilmuwan dan ilmuwan yang sudah jadi ke luar negeri sangat strategis dalam upaya mendongkrak daya saing bangsa sehingga kelak menjadi motor penggerak dan inovator di berbagai bidang. Namun, ilmu yang diperoleh anak bangsa di luar negeri itu tidak ada artinya jika mereka tidak diberi kesempatan berperan dalam masyarakat. Sehingga akhirnya segelintir ilmuwan ada yang kecewa dengan iklim penelitian di dalam negeri sehingga mereka lebih tertarik untuk tinggal dan bekerja di luar negeri. Tetapi, itu hanya sebagian kecil. Pada sisi lain, hal itu juga memungkinkan bagi anak bangsa terbaik untuk mengharumkan nama negeri kita di luar negeri. Toh, diam-diam mereka tetap menjalin komunikasi dengan sesama ilmuwan di dalam negeri dan memungkinkan transformasi teknologi kok.
Jadi bagaimana sekarang? Tidak malu? Pertanyaan ini sudah tidak relevan lagi untuk Indonesia, sebab peradaban bangsa ini baru sampai sebatas itu. Akan tenggelamkah kita? Semoga tidak! Anak bangsa yang masih punya hati nurani harus bangkit menolong perahu republik ini agar tidak semakin dipermalukan dunia. Semoga saya, Anda, kita semua putra putri bangsa yang saat ini sedang mengemban tugas mulia belajar di negeri orang, menjadi bagian dari pendobrak perubahan di negeri kita tercinta.
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Jumat, 28 Mei 2010
Bangsa yang Suka Menghina Diri Sendiri
Bangsa Indonesia gemar mencemooh bangsa sendiri. Apabila ada insan atau lembaga Indonesia melakukan kesalahan, segera mereka dihujani cemooh bodoh,tidak becus, tidak profesional, buta manajemen, tidak berjiwa entrepreneur, terbelakang, primitif dan aneka ragam caci maki lain.
Pendek kata, kita gemar mencemooh bangsa kita sendiri sebagai bangsa serba-tidak bisa di samping pemalas dan korup. Sambil mencemooh kita juga gemar membandingkan diri dengan bangsa lain, terutama bangsa negara-negara maju yang selalu dianggap pintar, rajin, tekun, terampil, profesional, unggul manajemen, berjiwa entrepreneur, progresif, modern, visioner, dan aneka ragam pujian setinggi langit ketujuh. Mungkin kita tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa gedung kebanggaan Kota Sydney, Sydney Opera House (SOH), dibangun dengan biaya berlipat ganda melebihi anggaran yang semula dirancang pemda setempat. Eksterior SOH memang memesona dan layak dinobatkan sebagai landmark Kota Sydney,namun interiornya tidak layak dipuji, apalagi dipesonai.
Di samping terkesan asal jadi, akustik hall utama SOH merupakan salah satu yang terburuk di dunia karena secara akustik tidak layak untuk pergelaran opera, padahal namanya Sydney Opera House! Di samping itu letak lokasi parkir mobilnya tidak manusiawi karena terlalu jauh dari gedung SOH itu sendiri.Belum terhitung berapa korban jiwa berjatuhan pada saat membangun konstruksi atap SOH nan spektakuler tapi sangat berbahaya bagi keamanan bahkan nyawa para pekerja bangunan. Pendek kata,apabila bangunan spektakuler bermasalah itu dibangun di Jakarta, maka pasti pembangunnya, termasuk arsitekturnya, habis dicaci maki sebagai tidak becus, tidak profesional, berbahaya, bahkan korup akibat anggaran terbukti membengkak seperti gajah obesitas sedang menderita sembelit dan beri-beri!
Anggaran biaya pesawat terbang Concorde,penembus ambang kecepatan suara itu juga tidak kalah menggelembung ketimbang SOH, bahkan belasan kali lipat lebih besar ketimbang anggaran yang semula ditetapkan. Hasil pemasaran penerbangan Concorde juga tidak seperti yang diharapkan, bahkan akhirnya bangkrut. Terbukti kini pesawat supersonik tersebut sudah menjadi sejarah belaka. Andaikata yang merancang dan memproduksi pesawat terbang gagal itu adalah IPTN,apalagi di bawah pimpinan Prof Dr BJ Habibie yang di Eropa dipuja puji sebagai tokoh industri aeronautika itu,pasti habis dicaci maki sebagai tidak becus,tidak profesional, bahkan korup akibat anggaran yang terbukti membengkak seperti perut gajah bunting tua sambil tidak bisa kentut .
NASA belum lama berselang ini meluncurkan balon raksasa (121 meter!) dengan muatan peralatan teleskop yang khusus dirancang untuk meneropong alam semesta di ketinggian tidak tercapai jangkauan indera lihat manusia di kawasan gurun outback Australia tengah. Ketika baru saja mulai meninggalkan permukaan bumi, mendadak gondola yang bergantung di balon raksasa itu lepas, sehingga teleskop yang juga berukuran raksasa dan luar biasa mahal itu jatuh kembali ke bumi menimpa pagar kawasan parkir mobil di Alice Springs Balloon Launching Centre, di dekat Kota Alice Springs di kawasan gurun Australia tengah.
Teleskop yang hancur lebur itu bukan kelas sembarangan dan sama sekali tidak murah biaya pembuatannya karena merupakan nuclear compton telescope (NCT), sebuah teleskop berteknologi nuklir karya astronom Steven Boggs dan rekan-rekannya di University of California, Berkeley, California, untuk penelitian sumber-sumber astrofisikal di angkasa semesta.
Andaikata yang merancang balon raksasa penggendong teleskop raksasa luar biasa mahal itu adalah para ilmuwan LIPI dan peluncuran yang gagal dilakukan para guru besar ITB didukung para mahasiswa ITS di gurun pasir Gunung Bromo, pastilah mereka habis dicaci maki sebagai terbelakang, primitif, tidak profesional, tidak becus manajemen dan masih ditambah korupsi suku cadang konstruksi balon maupun teleskop, sehingga kandas mengangkasa itu. Itu juga akan menjadi bukti bahwa kita memang gemar mencemooh karsa dan karya bangsa kita sendiri!
NOTES: artikel ini dicontek dari blognya Aziyati Dzata Ishma yang baru bikin blog lagi. Sekalian aja silahkan di add biar temannya banyak. Hehehe...
Pendek kata, kita gemar mencemooh bangsa kita sendiri sebagai bangsa serba-tidak bisa di samping pemalas dan korup. Sambil mencemooh kita juga gemar membandingkan diri dengan bangsa lain, terutama bangsa negara-negara maju yang selalu dianggap pintar, rajin, tekun, terampil, profesional, unggul manajemen, berjiwa entrepreneur, progresif, modern, visioner, dan aneka ragam pujian setinggi langit ketujuh. Mungkin kita tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa gedung kebanggaan Kota Sydney, Sydney Opera House (SOH), dibangun dengan biaya berlipat ganda melebihi anggaran yang semula dirancang pemda setempat. Eksterior SOH memang memesona dan layak dinobatkan sebagai landmark Kota Sydney,namun interiornya tidak layak dipuji, apalagi dipesonai.
Di samping terkesan asal jadi, akustik hall utama SOH merupakan salah satu yang terburuk di dunia karena secara akustik tidak layak untuk pergelaran opera, padahal namanya Sydney Opera House! Di samping itu letak lokasi parkir mobilnya tidak manusiawi karena terlalu jauh dari gedung SOH itu sendiri.Belum terhitung berapa korban jiwa berjatuhan pada saat membangun konstruksi atap SOH nan spektakuler tapi sangat berbahaya bagi keamanan bahkan nyawa para pekerja bangunan. Pendek kata,apabila bangunan spektakuler bermasalah itu dibangun di Jakarta, maka pasti pembangunnya, termasuk arsitekturnya, habis dicaci maki sebagai tidak becus, tidak profesional, berbahaya, bahkan korup akibat anggaran terbukti membengkak seperti gajah obesitas sedang menderita sembelit dan beri-beri!
Anggaran biaya pesawat terbang Concorde,penembus ambang kecepatan suara itu juga tidak kalah menggelembung ketimbang SOH, bahkan belasan kali lipat lebih besar ketimbang anggaran yang semula ditetapkan. Hasil pemasaran penerbangan Concorde juga tidak seperti yang diharapkan, bahkan akhirnya bangkrut. Terbukti kini pesawat supersonik tersebut sudah menjadi sejarah belaka. Andaikata yang merancang dan memproduksi pesawat terbang gagal itu adalah IPTN,apalagi di bawah pimpinan Prof Dr BJ Habibie yang di Eropa dipuja puji sebagai tokoh industri aeronautika itu,pasti habis dicaci maki sebagai tidak becus,tidak profesional, bahkan korup akibat anggaran yang terbukti membengkak seperti perut gajah bunting tua sambil tidak bisa kentut .
NASA belum lama berselang ini meluncurkan balon raksasa (121 meter!) dengan muatan peralatan teleskop yang khusus dirancang untuk meneropong alam semesta di ketinggian tidak tercapai jangkauan indera lihat manusia di kawasan gurun outback Australia tengah. Ketika baru saja mulai meninggalkan permukaan bumi, mendadak gondola yang bergantung di balon raksasa itu lepas, sehingga teleskop yang juga berukuran raksasa dan luar biasa mahal itu jatuh kembali ke bumi menimpa pagar kawasan parkir mobil di Alice Springs Balloon Launching Centre, di dekat Kota Alice Springs di kawasan gurun Australia tengah.
Teleskop yang hancur lebur itu bukan kelas sembarangan dan sama sekali tidak murah biaya pembuatannya karena merupakan nuclear compton telescope (NCT), sebuah teleskop berteknologi nuklir karya astronom Steven Boggs dan rekan-rekannya di University of California, Berkeley, California, untuk penelitian sumber-sumber astrofisikal di angkasa semesta.
Andaikata yang merancang balon raksasa penggendong teleskop raksasa luar biasa mahal itu adalah para ilmuwan LIPI dan peluncuran yang gagal dilakukan para guru besar ITB didukung para mahasiswa ITS di gurun pasir Gunung Bromo, pastilah mereka habis dicaci maki sebagai terbelakang, primitif, tidak profesional, tidak becus manajemen dan masih ditambah korupsi suku cadang konstruksi balon maupun teleskop, sehingga kandas mengangkasa itu. Itu juga akan menjadi bukti bahwa kita memang gemar mencemooh karsa dan karya bangsa kita sendiri!
NOTES: artikel ini dicontek dari blognya Aziyati Dzata Ishma yang baru bikin blog lagi. Sekalian aja silahkan di add biar temannya banyak. Hehehe...
Langganan:
Postingan (Atom)