Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 September 2010

Jalan-Jalan ke Luar Angkasa Silaturahim dengan Alien (bagian 1)

Hey.. hey.. siapa dulu yang waktu kecil suka berkhayal bahwa di tahun 2000 itu kita sudah punya teknologi yang super canggih. Yah... maklum lah... soalnya saya kan produk keluaran pertengahan tahun 80-an gitu, jadi saat sedang masa asik-asiknya berkhayal itu adalah sekitar tahun 90-an. Waktu itu saya sering berkhayal bahwa tahun 2000 kita sudah punya mobil yang bisa terbang, motor bisa terbang, rumah-rumah bentuknya seperti kapsul besar, pembantu rumah tangganya pake robot canggih yang sangat mirip manusia. Mirip seperti yang ditampilkan di film-film fiksi ilmiah seperti Star Trek dimana tiap makhluk penghuni di seluruh galaksi alam semesta dapat saling berhubungan. Orang Bumi bisa ketemuan sama orang Mars, atau dari planet di sistem tata surya yang lain. Wah... keren... hahaha!

Oops... bentar-bentar, jadi keceplosan ngomongin adanya makhluk lain yang hidup selain di Bumi nih. Hehehe... ngomongin yang satu ini saya yakin masih banyak pro dan kontra. Ada orang yang percaya dan ada juga yang nggak. Yah... hak masing-masing sih, silahkan saja mau percaya apa nggak! Tapi kalau saya pribadi sih, PERCAYA! We are not alone in the universe. Ehemmm... mudah-mudahan sudah mulai hot nih pembahasannya.

Okay saya mengerti kalau ada beberapa orang yang tidak percaya bahwa kemungkinan ada makhluk hidup lain selain yang ada di Bumi. Orang-orang biasa menyebut mereka dengan "alien". Artinya adalah "makhluk asing". Tapi kalau saya sih terus terang agak kurang setuju dengan penyebutan alien. Sebab kalau disebut makhluk alien, seolah-olah seperti ada makhluk lain selain manusia, malaikat, jin, hewan, dan tumbuhan. Padahal, kalau merunut di Al-Qur'an, yang namanya makhluk Allah ya hanya tergolong apakah dia manusia, malaikat, jin, hewan, atau tumbuhan saja, gak ada yang namanya alien. Tapi ya karena orang sudah lebih akrab dengan istilah itu, ya sudah lah... asal jangan dikaburkan saja maknanya.

Sekarang mari kita mulai cerita kali ini dengan penggambaran sebesar atau seluas apa sebenarnya alam semesta kita ini.

Yuk kita lihat dan baca terjemahan Al-Qur'an dari surah Ath-Thalaq ayat 12. Sengaja di sini saya mengutip terjemahan ayat dari beberapa sumber agar bisa dibandingkan antara satu terjemahan dengan terjemahan yang lainnya.

1. Terjemahan Departemen Agama RI:

"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu."

2. Dari http://etext.virginia.edu:
"Allah is He Who created seven heavens, and of the earth the like of them; the decree continues to descend among them, that you may know that Allah has power over all things and that Allah indeed encompasses all things in (His) knowledge."

3. Terjemahan Bahasa Inggris:
"GOD created seven universes and the same number of earths. The commands flow among them. This is to let you know that GOD is Omnipotent, and that GOD is fully aware of all things."



Jarak bumi dan matahari kurang lebih 149.680.000 atau hampir 500 detik perjalanan cahaya yang mendekati 300 ribu km per detik. Tapi kalau dibandingkan dengan naik bus jurusan Jakarta - Surabaya yang suka ngebut dengan kecepatan 100 km per jam biar di belokan dan bukan tol, waktu tempuhnya lebih dari 62 ribu hari atau 170 tahunanlah. Itupun kalau bus nya nggak mogok, nggak ada macet atau kecelakaan yang mengorbankan penumpang.

Bayangin deh, Nyaris segala bentuk kehidupan yang ada di bumi ini ditentukan oleh kehadiran matahari yang besarnya juga hampir 1.000.000 kali ukuran bumi. Yang perlu diketahui juga, matahari hanyalah 1 bintang dari jutaan trilyun bintang yang ada di alam semesta. Tau nggak luas alam semesta yang saat ini diketahui berapa luasnya? Ternyata ukurannya sejauh 78 milyar tahun cahaya. Itu artinya jarak yang dapat ditempuh oleh berkas cahaya dalam waktu 78 milyar tahun. Kalau kecepatan cahaya sendiri adalah 300.000 km/detik. Nah silahkan hitung sendiri deh berapa jaraknya!

Oke mungkin kita semua bingung akan besaran angka yang ditulis di atas. Otak kita tidak terbiasa membayangkan besaran atau seberapa luas kah yang namanya 78 milyar tahun cahaya itu. Jadi kalau gitu sekarang mari kita bikin lebih simpel. Tahun 1995, teleskop Hubble pernah merekam gambar selama 10 hari ke salah satu bagian sudut luar angkasa. Hasilnya adalah sebuah gambaran yang luar biasa mengenai Jagad Raya. Ribuan galaksi terpampang pada gambar tersebut. Kira0kira sekitar 3.000 galaksi ditampakkan dari hanya satu sudut angkasa saja, yang sebelumnya tampak kosong belaka.

Kita tinggal pada sebuah planet, satu di antara 8 buah yang terdapat di Tata Surya kita (Pluto sudah dianggap bukan planet anggota sistem Tata Surya Bima Sakti lagi). Planet-planet itu mengelilingi sebuah bintang (matahari). Bintang atau matahari kita terletak pada galaksi 1 di antara 500 milyar bintang-bintang lain yang ada pada Galaksi Bima Sakti.

Gambar di bawah ini adalah gambar paling jelas yang pernah diambil oleh teleskop Hubble adalah gambar Galaksi Spiral yang ada di gugusan Ursa Mayor. Sebuah Galaksi yang mirip dengan Galaksi kita. Setiap titik cahaya yang tampak di sana adalah bintang. Sebagian lebih besar dan sebagian lain lebih kecil dari matahari kita, namun semuanya adalah bintang. Banyak di antara bintang-bintang tersebut memiliki planet-planet yang mengitarinya. Melihat gambar ini, ide bahwa planet Bumi mungkin merupakan satu-satunya planet di Jagad Raya yang terdapat kehidupan justru terdengar aneh! Yang tampak justru adalah;sepertinya ada banyak planet yang mungkin mirip dengan planet kita. Galaksi kita, hanya 1 di antara banyak galaksi dalam kelompok lokal kita. Dan terdapat banyak, sangat banyak galaksi.


Saat kita memandang ke angkasa, kita hanya bisa melihat sekitar 3.000 bintang di langit malam yang cerah. Dengan begitu, akan mudah menganggap semua itulah yang ada. Jagad Raya bahkan kedengarannya tidak terlalu besar. Foto 'Bagian Dalam' yang diambil teleskop Hubble telah bisa memberikan sedikit gambaran mengenai beberapa besar kira-kira Jagad Raya kita. Tapi ceritanya nggak berhenti sampai di sana lho!

Selanjutnya, bulan September 2003, Teleskop Hubble mengambil gambar lagi. Kali ini, ia menyoroti sisi lain dari Jagad Raya dan merekam gambar selama kira-kira 11 hari. Menggunakan peralatan deteksi, serta filter yang diperbarui, dan kali ini kita mendapat gambar yang seperti ini:



Gambar di atas yang disebut dengan gambar Ultra Dalam. Untuk menunjukkan bagian paling jauh yang pernah kita amati di Jagad Raya. Lebih dari 10.000 galaksi terfoto dalam gambar ini. Tiap-tiap titik, berkas, maupun goresan-goresan tipis adalah GALAKSI. Dan pada tiap bagian titik-titik ini terdapat berjuta-juta bintang. Setiap bintang punya kemungkinan memiliki planet-planet yang mengelilinginya. Begitu juga setiap planet punya kemungkinan untuk terdapat kehidupan. Itulah yang sesungguhnya kita lihat. Pada saat kita tatap bagian langit yang tampaknya kosong belaka, angka tadi adalah jumlah galaksi dalam satu gambar. Ini merupakan gambaran dari 78 milyar tahun cahaya. Sebuah gambaran mengenai betapa kecilnya kita sesungguhnya.

(masih bersambung loh... )

Senin, 31 Mei 2010

Ritual Menyambut Pembunuhan yang Dilakukan Yahudi

Untuk kesekian kalinya Israel memamerkan arogansinya di depan hidung dunia internasional. Misi kemanusiaan di bawah bendera Freedom Frotilla di atas kapal Mavi Marmara menuju pelabuhan Ghaza diserang tentara Israel. Menurut data yang beredar, 19 relawan dunia meninggal, dan sekitar 30-an lainnya terluka. Aksi seperti ini bukan sekarang saja. Sudah menjadi “ritual” Israel, menumpahkan darah manusia secara zhalim, sambil menari-nari memamerkan tawanya yang busuk.

Seperti biasa pula, publik dunia segera mengutuk aksi Israel, mengecam keras, melancarkan demo besar-besaran, menggalang dana bantuan kemanusiaan, merencanakan pertemuan DK PBB, menyiapkan resolusi khusus –yang pasti akan ditolak Amerika-, dan lain-lain. Israel mempunyai ritual khusus untuk membunuhi manusia, sementara kita juga mempunyai “ritual khusus”, yaitu melakukan demo, mengecam, mengutuk, dan seterusnya.


Setelah dikecam dunia habis-habisan, biasanya Israel akan diam untuk sementara. Kera-kera Yahudi itu biasanya akan menghentikan serangan, sambil menunggu suasana tenang di dunia internasional. Kalau masyarakat dunia sudah tenang kembali, sudah enjoy dengan dunia bola, rokok, film, pornografi, seks bebas, main facebook, main tweeter, dll. kawanan kera itu akan membuat lagi aksi-aksi kekerasan yang lain. Mereka tidak akan berhenti membunuhi manusia, wong itu sudah menjadi ritual mereka. Dan Ummat Islam pun untuk ke sekian kalinya akan membuat “ritual penyambutan” semacam demo, mengecam, mengutuk, bakar bendera, diskusi, debat internet, mengumpulkan sumbangan, dan seterusnya.

Hal-hal begini sudah terjadi berkali-kali, puluhan kali, bahkan ratusan kaki. Resolusi PBB yang “dikentuti” oleh bangsa kera itu ada sekitar 400-an. Artinya, sebanyak itu mereka melakukan “ritual” pembununuhan, dan sebanyak itu pula kita melakukan “ritual penyambutan”. Mungkin, sudah saatnya dilakukan kerjasama harmonis antara bangsa monyet Israel dengan Ummat Islam dalam “melakukan ritual” ini. Biar ritual kedua belah pihak bisa berlangsung indah, berkesan, dan penuh pesona. Allahu Akbar, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Kaum Muslimin selama ini seperti tidak memfungsikan akalnya ketika menghadapi segala kebrutalan bangsa monyet dan babi, Israel. Kok mau-maunya kita dijadikan seperti kerbau yang dicocok hidung oleh Israel? Mereka tak henti-hentinya melakukan aksi kekerasan, sebenarnya untuk mempermainkan kita, menghina kita, dan menginjak-injak kepala kita. Di sisi lain, aksi-aksi kekerasan itu sangat mereka butuhkan untuk MENGATUR SKENARIO SEJARAH agar searah dengan misi yang mereka susun.

Ummat Islam sedunia selalu bersikap REAKTIF dan setan-setan Yahudi itu tahu karakter tersebut. Maka kita terus diprovokasi untuk melakukan reaksi demi reaksi. Ujungnya nanti, kita terjebak dalam permainan Yahudi terlaknat itu, lalu mengabaikan MISI ISLAMI yang seharusnya kita bangun. Demi Allah, sekarang ada tragedi Mavi Marmara. Nanti ke depan akan menyusul lagi tragedi-tragedi yang lain.

Modusnya sama persis. Israel akan melakukan aksi-aksi kekerasan yang bisa mengundang perhatian publik dunia (minimal dunia Islam). Setelah melakukan aksi, akan datang “ritual penyambutan” dari kaum Muslimin, berupa kecaman, kutukan, demo, mengumpulkan sumbangan, bakar bendera, seruan boikot produk, dll. Setelah ritual ini selesai, masyarakat dunia akan sibuk lagi dengan bola, film, rokok, pornografi, seks bebas, karier, jabatan, diskusi internet, pemilu, pilkada, dll. Setelah kita lengah dan sibuk, Israel akan mengulang lagi membuat aksi kekerasan. Begitu saja terus, sampai berlaku sebuah ungkapan, “Kambing congek pun tidak akan menanduk batu sampai dua kali.”

Disini ada beberapa poin penting yang perlu direnungkan:

1. Mengecam, mengutuk, demo, dan sebagainya, semua itu terbukti tidak efektif. Berapa ratus kali Ummat ini sudah mengecam, mengutuk, berdemo, lalu bagaimana hasilnya? Apakah Israel peduli dengan demo-demo itu?

2. Andaikan kita mengutuk Israel hari ini, maka bangsa itu sudah merasa terkutuk sejak jaman Musa As masih ada. Mereka berkali-kali dikutuk di jaman Musa, mereka dikutuk oleh lisan Dawud dan Isa As, bahkan Rasulullah Saw menjelaskan arti kata “al maghdhubi ‘alaihim” (yang dimurkai Allah) dalam Surat Al Fatihah, adalah bangsa Yahudi.

3. Andaikan kita heran dengan keberanian Yahudi dalam menantang dunia internasional, maka Al Qur’an sejak lama sudah memberitahu kita, bahwa Yahudi itu berani menantang Allah. Mereka berani mengatakan “Yadullahi magh-lulah” (Tangan Allah terbelenggu). Kalau kepada Allah saja mereka berani, apalagi kepada manusia biasa? Apalagi kepada orang Indonesia yang sering terkena sindrom “hangat-hangat tai ayam”? Kita selama ini “dikencingi” oleh babi-babi Yahudi itu.

4. Andaikan kita heran melihat Yahudi yang sangat sering melanggar hukum internasional, resolusi PBB, konvensi Jenewa, dll. maka Al Qur’an telah menjelaskan bahwa dulu kaum Bani Israil sering melanggar janji-janjinya kepada Allah. Termasuk ketika mereka berjanji, lalu Allah angkat bukit Tursina di atas kepala mereka. Tetap saja semua janji itu dikhianati. Tidak ada janji yang tidak dikhianati Yahudi, selain janji mereka untuk memuaskan hawa nafsu mereka sendiri.

5. Anda mungkin heran dengan kebrutalan Yahudi dan kesadisan mereka terhadap kaum Muslimin Palestina. Tetapi Al Qur’an memberitahu kita, bahwa kaum Yahudi ini sering membunuhi nabi-nabi yang diutus di tengah mereka. Di jaman Musa As saja, mereka hampir membunuh Nabi Harun As, karena beliau melarang mereka menyembah sapi betina. Jadi apa yang aneh dari kekejaman, kebrutalan, kesadisan Yahudi? Mungkin kita saja yang sering melupakan pesan Al Qur’an.

6. Yahudi melakukan aksi-aksi kekejaman bukan tanpa maksud. Apakah mereka sebodoh itu, melakukan aksi-aksi kekerasan tanpa tujuan? Tujuan Yahudi jelas. Mereka ingin memperlihatkan dirinya sebagai bangsa yang kuat, hebat, pemberani, perkasa, militan, sangat tegas, keras, pembunuh yang efektif, prajurit-prajurit yang gagah, alat-alat senjata lengkap, dan seterusnya. Dalam militer hal ini kerap disebut dengan ungkapan, show of force. Atau untuk menimbulkan efek detteren. Dengan segala aksi-aksi itu Yahudi ingin mengirim pesan kepada dunia, bahwa diri mereka besar, kuat, dan menakutkan. (Dalam Surat Al Anfaal, kita diperintahkan untuk membuat persiapan, sehingga dengan persiapan itu kita bisa menakut-nakuti musuh Allah. Hal yang sama dilakukan Yahudi terhadap masyarakat dunia, khususnya terhadap Ummat Islam. Hanya kita saja yang tidak menyadarinya).

Coba perhatikan pernyataan menarik yang disampaikan oleh PM Palestina, Al Ustadz Ismail Haniyah, ketika beliau mengomentari serangan monyet-monyet Yahudi ke kapal Mavi Marmara. Beliau menegaskan, bahwa bangsa Palestina tidak merasa aneh melihat kelakuan Yahudi itu. Kebrutalan seperti itu sudah sering mereka lakukan dan diulang-ulang terus. Jika kemudian kawanan monyet-monyet liar itu menyerang missi kemanusiaan, ia tidak aneh. (Apalagi dalam ideologi Yahudi, yang dianggap manusia adalah mereka sendiri. Selain Yahudi, dianggap binatang. Di mata Yahudi, missi Freedom Frotilla bukan dianggap misi kemanusiaan, tetapi “misi kebinatangan”).

Untuk menghadapi Yahudi sudah tidak jamannya mengecam, mengutuk, atau demo. Itu sudah terlalu kuno. Yang perlu dilakukan kaum Muslimin adalah melawan Yahudi, mematahkan mereka, memerangi mereka, atau setidaknya melemahkan kekuatan mereka. Jangan lagi mengutuk, sebab tanpa dikutuk pun, Yahudi sudah dikutuk oleh Allah sejak jaman Musa As.

Kalau ada korban, kerugian, kematian, kerusakan, atau apa saja yang diakibatkan oleh ulah Yahudi, kita jangan merasa aneh. Sudah menjadi tabiat khas Yahudi, membuat kerusakan di muka bumi. Paling usaha yang bisa dilakukan atas korban-korban dari pihak kaum Muslimin: mendoakan yang wafat agar mendapat mati syahid, mendokan yang terluka agar segera disembuhkan oleh Allah, mendoakan yang rumahnya hancur agar segera diganti oleh Allah dengan karunia yang lebih baik; menasehati mereka agar bersabar menghadapi anjing-anjing Yahudi; membantu mereka dengan bantuan-bantuan kemanusiaan yang kita mampu berikan.

Pertanyaannya, mengapa usaha-usaha Ummat Islam selama ini seolah buntu sama sekali ketika menghadapi segala invasi dan kebrutalan Yahudi terlaknat itu?

Ini pertanyaan menarik. Jumlah Ummat Islam sedunia, kalau dikurangi jumlah orang Syi’ah dan Ahmadiyyah, sekitar 1 miliar manusia. Jumlah Yahudi hanya sekitar 6 sampai 10 juta jiwa. Perbandingan sekitar 100 : 1. Ummat Islam 100, Yahudi hanya 1. Dengan perbandingan yang tidak manusiawi ini, nyatanya kaum Muslimin kalah terus melawan bangsa babi itu. Berarti disini ada masalah serius yang menghinggapi kaum Muslimin sedunia. Nah, masalah apakah itu?

Setidaknya ada 3 masalah utama kaum Muslimin dewasa ini. PERTAMA, mereka tidak menegakkan Dua Kalimat Syhadat secara benar dan konsisten. Ini problem asasinya. KEDUA, mereka berpecah-belah dalam ikatan nasionalisme, kesukuan, madzhab fiqih, fikrah diniyyah, manhaj dakwah, dll. Perpecahan ini merupakan konsekuensi dari masalah pertama. KETIGA, Ummat Islam tenggelam dalam kehidupan hedonisme yang memuja-muja dunia dan meremehkan Akhirat.

Ketiga masalah tersebut (dan berbagai masalah-masalah lain) bisa disolusi dengan satu langkah, yaitu: menegakkan Daulah Islamiyyah (Negara Islam). Jika ada Negara Islam yang konsisten melaksanakan amanah Dua Kalimat Syahadat dan serius mengupayakan Persatuan Ummat, niscaya masalah kebrutalan Yahudi bisa diatasi secara nyata. Hanya karena di dunia saat ini tidak ada Daulah Islamiyyah seperti itu, maka kita pun selalu menjadi mainan Yahudi. Jika ada Daulah Islamiyyah yang konsisten dengan Dua Kalimat Syahadat, ia bisa mengumumkan Jihad Fi Sabilillah melawan Yahudi. Kaum Muslimin tinggal berbaris di belakang daulah tersebut untuk menghadang Yahudi.

Tapi masalahnya, di kalangan Ummat Islam sendiri masih banyak yang ketakutan mendengar istilah Negara Islam. Jangankan mau mendukung, menyebut istilah ‘Negara Islam’ saja, mereka sudah gemetar. Termasuk yang gemetar itu adalah anak-anak muda –ikhwan dan akhwat- yang rajin berdemo menentang aksi-aksi kekerasan Israel. Kalau dikatakan kepada mereka, “Solusi untuk menghadapi Yahudi ini adalah dengan menegakkan Negara Islam. Apakah Anda setuju?” Nanti jawab mereka akan muter-muter seperti gasing. Ya akhirnya, mereka berdemo itu hanya sekedar untuk menggelar “ritual penyambutan” belaka, bukan untuk mencari solusi.

Inilah dilemanya Ummat Islam. Ummat kita ini tidak tahan ketika melihat kasus-kasus kekerasan. Tetapi kalau diajak menyelesaikan masalah itu secara tuntas, mereka juga enggan. Sebab di mata mereka, hidup ini harus diisi dengan hiburan-hiburan. Sedangkan kecaman, kutukan, demo, dan lain-lain itu pada dasarnya adalah “hiburan” dalam bentuk yang lain.

Meskipun begitu, kita jangan pesimis. Sesulit apapun kondisi, setiap Muslim harus optimis. Benar memang, semua problema ini berat, rumit, dan melelahkan; tetapi Allah Maha Besar, Keagungan dan Kemuliaan-Nya mengatasi semua problema itu.

Sekali lagi, tidak perlu kita mengecam atau mengutuk Israel. Mereka sudah dikutuk sejak jaman Nabi Musa As. Langkah yang bisa kita tempuh adalah melawan, mematahkan, memerangi, atau melemahkan kekuatan anjing-anjing Yahudi itu. Siapa yang sanggup melawan, lawanlah; siapa yang belum sanggup, bersabarlah. Siapa yang ingin maju duluan, silakan; siapa yang mau bertahan untuk membina kekuatan, silakan. Siapa yang bisa memerangi Yahudi dengan tangan, lakukan; siapa yang bisa memerangi Yahudi dengan uang, lakukan; siapa yang baru sanggup memerangi mereka dengan doa, juga lakukan. Hadapi Yahudi dengan AMAL NYATA, bukan RETORIKA. You know?

Al ‘izzatu lil Islam, wal halakah li –ashabil khinzir wal qiradah- al Yahud laknatullah ‘alaihim. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AMW.

Minggu, 11 April 2010

Bukti Turunnya Bantuan Allah dalam Perang Gaza - Israel

Ada pasukan lain membantu para mujahidin Palestina. Pasukan Israel sendiri mengakui adanya  pasukan berseragam putih tersebut.

Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al-Qalam, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel.

Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak laki-laki diinterograsi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.

Saat diinterograsi, sebagaimana ditulis di situs Filisthin Al Aan (25/1/2009), mujahidin al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan.

Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa pejuang al-Qassam memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”

Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik Brigade Izzuddin al Qassam, Multaqa al-Qassami, juga menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana, saya cuma sopir ambulan.”

Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya, “Pasukan yang berpakaian putih-putih di belakangmu itu kelompok mana?” Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu”, jawaban satu-satunya yang ia miliki.


Suara tak Bersumber

Ada lagi kisah karamah mujahidin yang kali ini disebutkan oleh khatib masjid Izzuddin al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah ditayangkan oleh TV channel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr. Abdurrahman Al  Jamal di situs Al Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi Jihad Al Furqan (Ayat-Ayat Allah dalam Jihad Al-Furqan).

Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau yang telah disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan tersebut.

“Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat sebuah helicopter menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank yang beriringan menuju jalan tempat saya menanam ranjau”, kata pejuang tadi.

Akhirnya sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena mengira ranjau itu tidak akan bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat banyak.

Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu mendengar suara, “Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih, “tetaplah di tempat maka Allah menguatkanmu”. Ucapan itu ia dengar berulang-ulang sebanyak tiga kali.

“Saya mencari sekeliling untuk mengatakan hal itu kepada saya. Akan tetapi saya malah terkejut, karena tidak ada seorang pun yang bernama saya, ucap mujahidin itu, sebagaimana ditirukan sang khatib.

Akhirnya sang Mujahid memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika sebuah tank melewati ranjau yang tertanam, sesuatu yang ajaib terjadi. Ranjau itu justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di dekatnya langsung hancur. Banyak serdadu Israel mati seketika. Sebagian dari mereka harus diangkut dengan helicopter. “Sedangkan saya sendiri dalam keadaan selamat.” Kata Mujahid itu lagi, melalui lidah khatib.

Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali, dalam situs alraesryoon.com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu Mujahid, salah seorang pejuang yang mengatakan , “Ketika saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan tidak ada seorang pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang yang bertasbih dan beristigfar. Saya berkali-kali mencoba untuk memastikan asal suara itu, akhirnya saya memastikan bahwa suara itu tidak keluar kecuali dari bebatuan dan pasir.”

Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga dating dari seorang penduduk rumah susun wilayah Tal Islam yang hendak mengungsi bersama keluarganya untuk menyelamatkan diri dari serangan Israel.

Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis, “Kenapa kalian menangis?” tanyanya.

“Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri kami atau takut dari musuh. Kami menangis karena bukan kami yang bertempur. Di sana ada sekelompok lain yang bertempur memporak-porandakan musuh, dan kami tidak tahu dari mana mereka dating.” Jawabnya.

Cerita tentang “serdadu berseragam putih” tidak hanya diungkap oleh mujahidin Palestina atau warga Gaza. Beberapa personel pasukan Israel sendiri menyatakan hal itu.

Situs Al Qassam memberitakan bahwa TV Channel 10 milik Israel telah menyiarkan seorang anggota pasukan yang ikut serta dalam pertempuran Gaza dan kembali dalam keadaan buta.

“Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih mendatangi saya dan menaburkan pasir di mata saya, hingga saat itu juga saya buta”, kata anggota pasukan itu.

Di tempat lain ada serdadu Israel yang mengatakan mereka pernah berhadapan dengan “hantu”. Mereka tidak diketahui dari mana asalnya, kapan munculnya, dan ke mana menghilangnya.

Masih dari Channel 10, seorang Tentara Israel lainnya mengatakan, “Kami berhadapan dengan pasukan berbaju putih-putih dengan jenggot panjang. Kami tembak dengan senjata akan tetapi mereka tidak mati.”

Cerita ini menggelitik banyak pemirsa. Mereka bertanya kepada channel 10, siapa sebenarnya pasukan berseragam putih itu?


Sudah Meledak, Ranjau Masih Utuh.

Di saat para mujahidin terjepit, hewan-hewan dan alam tiba-tiba ikut membantu, bahkan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan.

Sebuah kejadian aneh terjadi di Gaza Selatan, tepatnya di daerah Al Maghraqah. Saat itu para mujahidin sedang memasang ranjau. Di saat mengulur kabel, tiba-tiba sebuah pesawat mata-mata Israel memergoki mereka. Bom pun langsung jatuh ke lokasi itu.

Untunglah para mujahidin itu selamat. Namun, kabel penghubung ranjau dan pemicu yang tadi hendak disambung  menjadi terputus. Tidak ada kesempatan lagi untuk menyambungnya, karena pesawat masih berputar-putar di atas.

Tak lama kemudian, beberapa tank Israel mendekati lokasi dimana ranjau-ranjau tersebut ditanam. Tak sekedar lewat, tank-tank itu malah berhenti tepat di atas peledak yang sudah tak berfungsi itu.

Apa daya, kaum mujahidin tak bisa berbuat apa-apa. Kabel ranjau jelas tak mungkin disambung, sementara tank-tank Israel telah berkumpul persis di atas ranjau.

Mereka merasa amat sedih, bahkan ada yang menangis ketika melihat pemandangan itu. Sebagian yang lain berdoa, “Allahumma kama lam tumakkinna minhum, Allahumma la tumakkin lahum”, yang maknanya, “Ya Allah, sebagaimana Engkau tidak memberikan kesempatan kepada kami menghadapi mereka, jadikanlah mereka juga tidak memiliki kesempatan serupa.”

Tiba-tiba, ketika fajar tiba, terjadilah keajaiban. Terdengar ledakan dahsyat persis di lokasi penanaman yang tadinya tak berfungsi.

Setelah tentara Israel pergi dengan membawa kerugian akibat ledakan tersebut, para mujahidin segera melihat lokasi ledakan. Sungguh aneh, ranjau yang telah mereka tanam itu masih utuh. Dari mana datangnya ledakan? Wallahualam.

Masih dari wilayah Al Maghraqah. Saat pasukan Israel menembakkan artileri ke salah satu rumah, hingga rumah itu terbakar dan api menjalar ke rumah sebelahnya, para mujahidin dihinggapi rasa khawatir jika api itu semakin tak terkendali.

Seorang dari mujahidin itu lalu berdoa, “Wahai Dzat yang merubah api menjadi dingin dan tidak membahayakan untuk Ibrahim, padamkanlah api itu dengan kekuatan-Mu.”

Maka, tidak lebih dari tiga menit, api pun padam. Para mujahidin menangis terharu karena mereka merasa Allah telah member pertolongan dengan terkabulnya doa mereka dengan segera.


Merpati dan Anjing

Seorang Mujahid Palestina, menuturkan kisah aneh lainnya kepada situs Filisthin Al Aan (25/1/2009). Saat bertugas di wilayah Jabar Ar Rais, sang Mujahid itu melihat seekor merpati terbang dengan suara melengkin, yang melintas sebelum rudal-rudal Israel berjatuhan di wilayah itu.

Para mujahidin yang juga melihat merpati itu langsung menangkap adanya isyarat yang ingin disampaikan sang merpati.

Begitu merpati itu melintas, para mujahidin langsung berlindung di tempat persembunyian mereka. Ternyata dugaan mereka benar. Selang beberapa saat kemudian bom-bom Israel dating menghujan. Para mujahidin itu pun selamat.

Adalagi cerita keajaiban mengenai seekor anjing, sebagaimana diberitakan situs Filisthin Al Aan. Suatu hari, tatkala sekumpulan mujahidin Al Qassam melakukan ribath di front pada tengah malam, tiba-tiba muncul seekor  anjing militer Israel jenis Doberman. Anjing itu kelihatannya memang dilatih khusus untuk membantu pasukan Israel menemukan tempat penyimpanan senjata dan persembunyian para mujahidin.

Anjing besar ini mendekat dengan menampakkan sikap tidak bersahabat. Salah seorang mujahidin kemudian mendekati anjing itu dan berkata, “Kami adalah para mujahidin di jalan Allah dan kami diperintahkan untuk tetap berada di tempat ini. Karena itu menjauhlah dari kami, dan jangan menimbulkan masalah untuk kami.”

Setelah itu, si anjing duduk dengan dua tangannya dijulurkan ke depan dan diam. Akhirnya, seorang mujahidin yang lain mendekatinya dan memberinya beberapa kurma. Dengan tenang anjing itu memakan kurma, lalu beranjak pergi.


Kabut pun Ikut Membantu

Ada pula kisah menarik yang disampaikan oleh komandan lapangan Al Qassam di kamp pengungsian Nashirat, langsung setelah usai shalat dhuhur di masjid Al Qassam (17/1/2009).

Saat itu sekelompok Mujahid yang melakukan ribath di Tal Ajul terkepung oleh tank-tank Israel dan pasukan khusus mereka. Dari atas, pesawat mata-mata terus mengawasi.

Di saat posisi para mujahidin terjepit, kabut tebal tiba-tiba turun di malam itu. Kabut itu telah menutupi pandangan tentara Israel dan membantu pasukan Mujahid keluar dari kepungan.

Kasus serupa diceritakan oleh Abu Ubaidah, salah satu pemimpin lapangan Al Qassam, sebagaimana ditulis situs almesryoon.com. Ia bercerita bagaimana kabut tebal tiba-tiba turun dan membantu para mujahidin untuk melakukan serangan.

Awalnya, pasukan mujahidin tengah menunggu waktu yang tepat untuk mendekati tank-tank tentara Israel guna meledakkannya. “Tak lupa kami berdoa kepada Allah agar serangan untuk melakukan serangan ini,” kata Abu Ubaidah.

Tiba-tiba turunlah kabut tebal di tempat tersebut. Pasukan mujahidin segera bergerak menyelinap di antara tank-tank, menanam ranjau-ranjau di dekatnya, dan segera meninggalkan lokasi tanpa diketahui pesawat mata-mata yang memenuhi langit Gaza, atau berada di sekitar kendaraan militer itu. Lima tentara Israel tewas di tempat dan puluhan lainnya luka-luka setelah ranjau-ranjau itu meledak.

Selamat dengan Al-Quran

Cerita ini bermula ketika salah seoang pejuang yang menderita luka memasuki rumah sakit As Syifa’. Seorang dokter yang memeriksanya kaget ketika mengetahui ada sepotong proyektil peluru bersarang di saku pejuang tersebut.

Yang membuat ia sangat kaget adalah timah panas itu gagal menembus jantung sang pejuang karena terhalang oleh sebuah buku doa dan mushar al-Qur’an yang selalu berada di saku sang pejuang.

Buku kumpulan doa itu berlobang, namun hanya sampul muka mushaf saja yang rusak, sedangkan proyektil sendiri benuknya sudah berantakan.

Kisah ini dikisahkan sendiri oleh Dr Hisam Az Zaghah, dan diceritakannya saat Festival Ikatan Dokter Yordan sebagaimana ditulis situs partai Al Ikhwan Al Muslimun (23/1/2009)

Dr Hisam juga memperlihatkan bukti berupa sebuah proyektil peluru, mushaf Al-Qur’an, serta buku kumpulan doa-doa berjudul Hushnul Muslim yang menahan peluru tersebut.

Abu Ahid, imam Masjid An Nur di Hay As Syeikh Ridzwan, juga punya kisah menarik. Sebelumnya Israel telah menembakkan 3 rudalnya ke masjid itu hingga tidak tersisa kecuali hanya puing-puing bangunan. “Akan tetapi mushaf-mushaf Al-Qur’an tetap berada di tempatnya dan tidak tersentuh apa-apa,” ungkapnya seraya tak henti bertasbih.

“Kami temui beberapa mushaf yang terbuka tepat di ayat-ayat yang mengabarkan tentang kemenangan dan kesabaran, seperti firman Allah, “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, “Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya lah kami kembali.” (QS Al Baqarah: 155-156).


Harum Jasad Para Syuhada

Abdullah As Shani adalah anggota kesatuan sniper al-Qassam yang menjadi sasaran rudal pesawat F-16 Israel ketika sedang berada di pos keamanan di Nashirat, Gaza.

Jasad komandan lapangan al-Qassam dan pengawal khusus para tokoh Hamas ini “hilang” setelah terkena rudal. Selama dua hari jasad tersebut dicari, ternyata sudah hancur tak tersisa kecuali serpihan kepala dan dagunya. Serpihan-serpihan tubuh itu kemudian dikumpulkan oleh keluarganya untuk dimakamkan.

Sebelum dikebumikan, sebagaimana dirilis situs syiria-aleppo.com (24/1/2009), serpihan jasad tersebut sempat disemayamkan di sebuah ruangan di rumah keluarganya. Beberapa lama kemudian, mendadak muncul bau harum misk dari ruangan penyimpanan serpihan tubuh tadi.

Keluarga Abdullah As Shani’ terkejut lalu memberitahukan kepada orang-orang yang mengenal sang pejuang yang memiliki kunyah (julukan) Abu Hamzah ini.

Lalu, puluhan orang ramai-ramai mendatangi rumah tersebut untuk mencium bau harum yang berasal dari serpihan-serpihan tubuh yang diletakkan dalam sebuah kantong plastic.

Bahkan menurut pihak keluarga, 20 hari setelah wafatnya pria yang tak suka menampakkan amalan-amalannya ini, bau harum itu kembali semerbak memenuhi ruangan yang sama.

Cerita yang sama terjadi juga pada jenazah Musa Hasan Abu Nar, Mujahid Al Qassam yang juga syahid Karena serangan udara Israel di Nashiriyah. Dr Abdurrahmah Al Jamal, penulis yang bermukim di Gaza, ikut mencium bau harum dari sepotong kain yang terkena darah Musa Hasan Abu Nar. Walau kain itu telah dicuci berkali-kali, bau itu tetap semerbak.

Ketua Partai Amal Mesir, Majdi Ahmad Husain, menyaksikan sendiri harumnya jenazah para syuhada. Sebgaaimana dilansir situs Al Quds Al Arabi (19/1/2009), saat masih berada di Gaza, ia menyampaikan, “Saya telah mengunjungi sebagian besar kota dan desa-desa. Saya ingin melihat bangunan-bangunan yang hancur karena serangan Israel. Percayalah, bahwa saya mencium bau harumnya para syuhada.”


Dua Pekan Wafat, Darah Tetap Mengalir

Yasir Ali Ukasyah sengaja pergi ke Gaza dalam rangka bergabung dengan sayap milisi pejuang Hamas, Brigade Izzuddin Al-Qassam. Ia meninggalkan Mesir setelah Rafah, yang menghubungkan Mesir-Gaza, terbuka beberapa bulan lalu.

Sebelumnya, pemuda yang gemar menghafal al-Qur’an ini sempat mengikuti wisuda al-huffadz (para penghafal) al-Quran di Gaza dan bergabung dengan para mujahidin untuk memperoleh pelatihan militer. Sebelum masuk Gaza, di pertemuan terakhir dengan salah satu sahabatnya di Rafah, ia meminta didoakan agar memperoleh kesyahidan.

Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, di bumi jihad Gaza, ia telah memperoleh apa yang ia cita-citakan. Yasir syahid dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Israel di kamp pengungsian Jabaliya.

Karena kondisi medan, jasadnya baru bisa dievakuasi setelah dua pekan wafatnya di medan pertempuran tersebut.

Walau sudah dua pekan meninggal, para pejuang yang ikut serta melakukan evakuasi menyaksikan bahwa darah segar pemuda berumur  21 tahun itu masih mengalir dan fisiknya tidak rusak. Kondisinya mirip seperti orang yang sedang tidur.

Sebelum syahid, para pejuang pernah menawarkan kepadanya untuk menikah dengan salah satu gadis Palestina, namun ia menolak. “Saya meninggalkan keluarga dan tanah air dikarenakan hal yang lebih besar dari itu,” jawabnya.

Kabar tentang kondisi jenazah pemuda yang memiliki kunyah Abu Hamzah beredar di kalangan penduduk Gaza. Para khatib juga menjadikannya sebagai bahan khutbah Jum’at mereka atas tanda-tanda keajaiban perang Gaza. Cerita ini dimuat oleh Arab Times (7/2/2009).

Terbunuh 1.000 Lahir 3.000

Hilang seribu, tumbuh tiga ribu. Sepertinya ungkapan ini cocok disematkan kepada penduduk Gaza. Kesedihan rakyat Gaza  atas kehilangan nyawa 1.412 putra putrinya, terobati dengan lahirnya 3.700 bayi selama 22 hari gempuran Israel terhadap kota kecil ini.

Hamam Nisman, Direktur Dinas Hubungan Sosial dalam Kementrian Kesehatan pemerintahan Gaza menyatakan bahwa dalam 22 hari 3.700 bayi lahir di Gaza. “Mereka lahir antara tanggal 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009, ketika Israel melakukan serangan yang menyebabkan meninggalnya 1.412 rakyat Gaza, yang mayoritas wanita dan anak-anak.” Katanya.

Bulan Januari tercatat sebagai angka kelahiran tertinggi disbanding bulan-bulan sebelumnya. “Setiap tahun 50.000 kasus kelahiran tercata di Gaza. Dan dalam satu bulan tercatat hingga 3.000 sampai 4.000 kelahiran. Akan tetapi di masa serangan Israel 22 hari, kami mencatat 3.700 kelahiran dan pada sisa bulan Januari tercatat 1.300 kelahiran. Berarti dalam bulan Jannuari terjadi peningkatan kelahiran hingga 1.000 kasus.

Rasio antara kematian dan kelahiran di Gaza memang tidak sama. Angka kelahiran, jelasnya lagi, mencapai 50.000 tiap 5 tahun, sedangkan kematian mencapai 5.000.

“Israel sengaja membunuh para wanita dan anak-anak untuk menghapus masa depan Gaza. Sebanyak 440 anak dan 110 wanita telah dibunuh dan 2.000 anak serta 1.000 wanita mengalami luka-luka selama perang Israel-Gaza.

*) Dirangkum dari beberapa sumber

Minggu, 07 Februari 2010

Sejuta Cinta untuk Guruku, Ustadz Saiful Islam Mubarak

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarokatuh...
Surat ini aku buat sebagai tanda penghormatan kepada guruku.
Telah beruraian cinta dan kerinduan yang mendalam ketika aku tuliskan ini.
Kepada sesosok pribadi yang telah begitu ikhlas menghiasi taman ketaqwaan.

Teruntuk seorang murobbi yang telah mengambil jalan jihad dengan mengajarkan Al-Quran dalam sebuah darul ilmi.
Mungkin hanyalah sebuah khayalan semu jika mengharapkan agar surat ini sampai langsung ke tanganmu.
Sehingga membuatku hanya mampu untuk menuliskannya di sini.

Ustadz...
Aku hanya ingin mengurai kembali kisah yang pernah kita lalui.
Aku dan teman-teman, dimana engkau menjadi pembimbing kami.
Engkau pribadi yang serius.
Sesekali engkau bercanda. Namun candaan itu sangat menggambarkan canda Rasulullah Muhammad SAW.

Ustadz...
Dulu aku masih terbata-bata dalam membaca Al-Qur'an.
Aku sering merasa malu dengan teman-temanku, karena saat itu aku merasa bacaan qur'anku yang paling buruk.
Lalu seorang kawan mengajakku untuk belajar cara membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar kepadamu.
Di sana aku memulai dengan pelajaran tahsin yang masih tingkat paling dasar.
Engkau mengajarkan aku dengan penuh khidmat.
Terkadang engkau marah ketika aku mulai tidak serius untuk belajar.
Tapi aku tahu, marahmu itu sebenarnya adalah ekspresi cinta seorang guru kepada muridnya.

Ustadz...
Dulu aku juga seorang yang sangat sedikit hafalan Qur'annya.
Jangankan Juz 'Amma, surat Al-Adhiyat yang pendek saja aku tidak hafal.
Suatu saat aku pernah dikejutkan oleh salah seorang binaanku.
Ketika aku tanya, ternyata dia sudah hafal empat belas juz.
Masya'allah... aku malu sekali.
Bagaimana mungkin seorang kakak mentor seperti aku lebih sedikit hafalan qur'annya daripada adik binaannya.
Aku pun bertanya kepada adik binaanku itu.
Siapa yang mengajarimu sampai bisa hafal empat belas juz saat masih kelas 1 SMA begini?
Sambil senyum ringan dia pun menjawab, "Ustadz Saiful Islam Mubarok".
Subhanallah... lagi-lagi aku mendengar nama baikmu sebagai penjaga Al-Qur'an.

Ustadz...
Mungkin masih ingat terakhir kali kita bertemu, sebelum aku pergi menuntut ilmu dan kita dipisahkan oleh jarak.
Saat itu engkau memimpin acara MABIT di masjid kita.
Malam yang begitu sunyi kita ramaikan dengan lantunan tadarus Al-Qur'an.
Selanjutnya engkau mulai berceramah.
Suaramu sangat khas.
Datar, hampir tidak ada intonasi.
Sedikit bercanda, serius, namun sangat berbobot isinya.
Kemudian di sepertiga malam terakhir engkau mengimami kami untuk shalat Qiyamullail.
Sebelas raka'at shalat kita selesaikan dalam tempo tiga jam.
Di tiap raka'at engkau membaca surat yang begitu panjang, dua juz banyaknya.
Saat itu, lantunan suara bacaan suratmu sesekali terhenti karena isak tangismu.
Tak jarang aku pun mendengar isak tangis para jama'ah yang saat itu sedang shalat.
Engkau menangis.
Aku menangis.
Mereka menangis.
Kita semua menangis sebagai bentuk kerendahan diri di hadapan Tuhan yang Maha Menggenggam setiap desah nafas.

Ustadz...
Aku tahu saat ini engkau tidak lagi tergabung dalam sebuah jama'ah yang bernama Partai Keadilan Sejahtera.
Keputusan para qiyadah telah memberhentikanmu sebagai salah satu mujadid dakwah dalam jama'ah itu.
Aku tidak berhak mengatakan ini sebagai suatu ketidakadilan.
Sebab sesungguhnya engkau dan para qiyadahlah yang punya wewenang menjelaskan.
Mungkin hafalan Qur'anku dan amalan harianku tidak sebaik para qiyadahku.
Namun aku tahu betul cara memperlakukan seorang ulama yang menjadi teladanku dalam mencintai Al-Qur'an, membacanya, juga menghafalkannya.
Apa pun yang engkau alami saat ini, engkau tetap orang yang sangat terhormat bagiku.
Engkau guru, sekaligus orangtua bagiku.

Ustadz...
Aku masih ingat kata-katamu dalam pertemuan rutin mingguan kali itu.
Tercatat rapi dalam buku catatan milikku.
Engkau mengatakan bahwa satu-satunya ikatan di antara sesama muslim adalah ikatan berdasarkan ketaqwaan kepada Allah.
Ikatan ini bukan ikatan darah dan nasab; bukan ikatan tanah air dan bangsa; bukan ikatan kaum dan marga; bukan ikatan warna kulit dan bahasa; bukan ikatan ras dan suku; juga bukan ikatan profesi dan status sosial.
Gerakan, jama'ah, atau organisasi hanyalah sebuah alat.
Tidak lebih dari itu.
Boleh berbangga dengannya, tapi tidak layak ia menggantikan posisi loyalitas kita kepada Islam sendiri.

Ustadz...
Sebagai seorang murid aku hanya bisa berdoa untukmu.
Semoga Allah tetap melimpahkan segala berkah dan rahmat-Nya ke atasmu.
Sungguh setiap ucapan yang baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur, air mata yang menetes penuh keikhlasan, dan semua keluhan yang menggundahgulanakan hati adalah hanya pantas ditujukan ke hadirat-Nya.

Maka perkenankanlah aku menjelang dini hari ini untuk menengadahkan kedua telapak tanganku.
Menjulurkan lengan penuh harap.
Mengarahkan terus tatapan mataku ke arah-Mu untuk memohon pertolongan.

Ya Allah...
Gantikanlah kepedihan ini dengan kesenangan.
Jadikan kesedihan itu awal kebahagiaan.
Sirnakan rasa takut ini menjadi rasa tentram.
Ya Allah...
Dinginkan panasnya qalbu dengan salju keyakinan,
dan padamkan bara jiwa dengan air keimanan.

Tuangkan dalam jiwa yang bergolak ini kedamaian.
Dan ganjarlah dengan kemenangan yang nyata.
Wahai Rabb...
Tunjukkanlah pandangan kebingungan ini kepada cahaya-Mu.
Bimbinglah sesatnya perjalanan ini ke arah jalan-Mu yang lurus.
Dan tuntunlah orang-orang yang menyimpang dari jalan-Mu merapat ke hidayah-Mu.

Kami berlindung kepada-Mu dari setiap rasa takut yang mendera.
Hanya kepada-Mu kami bersandar dan bertawakal.
Hanya kepada-Mu kami memohon, dan hanya kepada-Mu lah semua pertolongan.
Cukuplah Engkau sebagai Pelindung kami, karena Engkaulah sebaik-baik Pelindung dan Penolong.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh...


Rabu, 27 Januari 2010

Surat Cinta dari Manusia-Manusia Malam

Kami tujukan kepada: Insan yang tersia-sia malamnya...
 
Wahai orang-orang yang terpejam matanya, Perkenankanlah kami, manusia-manusia malam menuliskan sebuah surat cinta kepadamu. Seperti halnya cinta kami pada waktu malam-malam yang kami rajut di sepertiga terakhir. Atau seperti cinta kami pada keagungan dan rahasianya yang penuh pesona. Kami tahu dirimu bersusah payah lepas tengah hari berharap intan dan mutiara dunia. Namun kami tak perlu bersusah payah, sebab malam-malam kami berhiaskan intan dan mutiara dari surga.

Wahai orang-orang yang terlelap, Sungguh nikmat malam-malammu. Gelapnya yang pekat membuat matamu tak mampu melihat energi cahaya yang tersembunyi di baliknya. Sunyi senyapnya membuat dirimu hanyut tak menghiraukan seruan cinta. Dinginnya yang merasuk semakin membuat dirimu terlena,menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian hangatnya. Aduhai kau sangat menikmatinya.

Wahai orang-orang yang terlena, Ketahuilah, kami tidak seperti dirimu! Yang setiap malam terpejam matanya, yang terlelap pulas tak terkira. Atau yang terlena oleh suasananya yang begitu menggoda. Kami tidak seperti dirimu! Kami adalah para perindu kamar di surga. Tak pernahkah kau dengar Sang Insan Kamil, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya di surga itu ada kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar. Disediakan untuk mereka yang memberi makan orang-orang yang memerlukannya, menyebarkan salam serta mendirikan sholat pada saat manusia terlelap dalam tidur malam." Sudahkah kau dengar tadi? Ya, sebuah kamar yang menakjubkan untuk kami dan orang-orang yang mendirikan sholat pada saat manusia-manusia yang lain tertutup mata dan hatinya.

Wahai orang-orang yang keluarganya hampa cinta, Kau pasti pernah mendengar namaku disebut. Aku Abu Hurairah, Periwayat Hadits. Kerinduanku akan sepertiga malam adalah hal yang tak terperi. Penghujung malam adalah kenikmatanku terbesar. Tapi tahukah kau? Kenikmatan itu tidak serta merta kukecap sendiri. Kubagi malam-malamku yang penuh syahdu itu menjadi tiga. Satu untukku, satu untuk istriku tercinta dan satu lagi untuk pelayan yang aku kasihi. Jika salah satu dari kami selesai mendirikan sholat, maka kami bersegera membangunkan yang lain untuk menikmati bagiannya. Subhanallah, tak tergerakkah dirimu? Pedulikah kau pada keluargamu? Adakah kebaikan yang kau inginkan dari mereka? Sekedar untuk membangunkan orang-orang yang paling dekat denganmu, keluargamu?

Lain lagi dengan aku, Nuruddin Mahmud Zanki. Sejarah mencatatku sebagai Sang Penakluk kesombongan pasukan salib. Suatu kali seorang ulama tersohor Ibnu Katsir mengomentari diriku, katanya, "Nuruddin itu kecanduan sholat malam, banyak berpuasa dan berjihad dengan akidah yang benar." Kemenangan demi kemenangan aku raih bersama pasukanku. Bahkan pasukan musuh itu terlibat dalam sebuah perbincangan seru. Kata mereka, "Nuruddin Mahmud Zanki menang bukan karena pasukannya yang banyak. Tetapi lebih karena dia mempunyai rahasia bersama Tuhan". Aku tersenyum, mereka memang benar. Kemenangan yang kuraih adalah karena do'a dan sholat-sholat malamku yang penuh kekhusyu'an. Tahukah kau dengan orang yang selalu setia mendampingiku? Dialah Istriku tercinta, Khotun binti Atabik. Dia adalah istri shalehah di mataku, terlebih di mata Allah. Malam-malam kami adalah malam penuh kemesraan dalam bingkai Tuhan.

Gemerisik dedaunan dan desahan angin seakan menjadi pernak-pernik kami saat mendung di mata kami jatuh berderai dalam sujud kami yang panjang. Kuceritakan padamu suatu hari ada kejadian yang membuat belahan jiwaku itu tampak murung. Kutanyakan padanya apa gerangan yang membuatnya resah. Ya Allah, ternyata dia tertidur, tidak bangun pada malam itu, sehingga kehilangan kesempatan untuk beribadah. Astaghfirulloh, aku menyesal telah membuat dia kecewa. Segera setelah peristiwa itu kubayar saja penyesalanku dengan mengangkat seorang pegawai khusus untuknya. Pegawai itu kuperintahkan untuk menabuh genderang agar kami terbangun di sepertiga malamnya.

Wahai orang-orang yang terbuai, Kau pasti mengenalku dalam kisah pembebasan Al Aqso, rumah Allah yang diberkati. Akulah pengukir tinta emas itu, seorang Panglima Perang, Sholahuddin Al-Ayyubi. Orang-orang yang hidup di zamanku mengenalku tak lebih dari seorang Panglima yang selalu menjaga sholat berjama'ah. Kesenanganku adalah mendengarkan bacaan Al-qur'an yang indah dan syahdu. Malam-malamku adalah saat yang paling kutunggu. Saat-saat dimana aku bercengkerama dengan Tuhanku. Sedangkan siang hariku adalah perjuangan-perjuangan nyata, pengejawantahan cintaku pada-Nya.

Wahai orang-orang yang masih saja terlena, Pernahkah kau mendengar kisah penaklukan Konstantinopel? Akulah orang di balik penaklukan itu, Sultan Muhammad Al Fatih. Aku sangat lihai dalam memimpin bala tentaraku. Namun tahukah kau bahwa sehari sebelum penaklukan itu, aku telah memerintahkan kepada pasukanku untuk berpuasa pada siang harinya. Dan saat malam tiba, kami laksanakan sholat malam dan munajat penuh harap akan pertolongan-Nya. Jika Allah memberikan kematian kepada kami pada siang hari disaat kami berjuang, maka kesyahidan itulah harapan kami terbesar. Biarlah siang hari kami berada di ujung kematian, namun sebelum itu, di ujung malamnya Allah temukan kami berada dalam kehidupan. Kehidupan dengan menghidupi malam kami.

Wahai orang-orang yang gelap mata dan hatinya, Pernahkah kau dengar kisah Penduduk Basrah yang kekeringan? Mereka sangat merindukan air yang keluar dari celah-celah awan. Sebab terik matahari terasa sangat menyengat, padang pasir pun semakin kering dan tandus. Suatu hari mereka sepakat untuk mengadakan Sholat Istisqo yang langsung dipimpin oleh seorang ulama di masa itu. Ada wajah-wajah besar yang turut serta di sana, Malik bin Dinar, Atho' As-Sulami, Tsabit Al-Bunani. Sholat dimulai, dua rakaat pun usai. Harapan terbesar mereka adalah hujan-hujan yang penuh berkah. Namun waktu terus beranjak siang, matahari kian meninggi, tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Mendung tak datang, langit membisu, tetap cerah dan biru. Dalam hati mereka bertanya-tanya, adakah dosa-dosa yang kami lakukan sehingga air hujan itu tertahan di langit? Padahal kami semua adalah orang-orang terbaik di negeri ini? Sholat demi sholat Istisqo didirikan, namun hujan tak kunjung datang.

Hingga suatu malam, Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani terjaga di sebuah masjid. Saat malam itulah, aku, Maimun, seorang pelayan, berwajah kuyu, berkulit hitam dan berpakaian usang, datang ke masjid itu. Langkahku menuju mihrab, kuniatkan untuk sholat Istisqo sendirian, dua orang terpandang itu mengamati gerak gerikku. Setelah sholat, dengan penuh kekhusyu'an kutengadahkan tanganku ke langit, seraya berdo'a: "Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu sudah habis? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya." Lalu apa gerangan yang terjadi? Angin langsung datang bergemuruh dengan cepat, mendung tebal di atas langit. Langit seakan runtuh mendengar do'a seorang pelayan ini. Do'aku dikabulkan oleh Tuhan, hujan turun dengan derasnya, membasahi bumi yang tandus yang sudah lama merindukannya.

Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani pun terheran-heran dan kau pasti juga heran bukan? Aku, seorang budak miskin harta, yang hitam pekat, mungkin lebih pekat dari malam-malam yang kulalui. Hanya manusia biasa, tapi aku menjadi sangat luar biasa karena doaku yang makbul dan malam-malam yang kupenuhi dengan tangisan dan taqarrub pada-Nya.

Wahai orang-orang yang masih saja terpejam, Penghujung malam adalah detik-detik termahal bagiku, Imam Nawawi. Suatu hari muridku menanyakan kepadaku, bagaimana aku bisa menciptakan berbagai karya yang banyak? Kapan aku beristirahat, bagaimana aku mengatur tidurku? Lalu kujelaskan padanya, "Jika aku mengantuk, maka aku hentikan sholatku dan aku bersandar pada buku-bukuku sejenak. Selang beberapa waktu jika telah segar kembali, aku lanjutkan ibadahku." Aku tahu kau pasti berpikir bahwa hal ini sangat sulit dijangkau oleh akal sehatmu. Tapi lihatlah, aku telah melakukannya, dan sekarang kau bisa menikmati karya-karyaku.

Wahai orang-orang yang tergoda, Begitu kuatkah syetan mengikat tengkuk lehermu saat kau tertidur pulas? Ya, sangat kuat, tiga ikatan di tengkuk lehermu! Dia lalu menepuk setiap ikatan itu sambil berkata, "Hai manusia, Engkau masih punya malam panjang, karena itu tidurlah!". Hei, Sadarlah, sadarlah, jangan kau dengarkan dia, itu tipu muslihatnya! Syetan itu berbohong kepadamu. Maka bangunlah, bangkitlah, kerahkan kekuatanmu untuk menangkal godaannya. Sebutlah nama Allah, maka akan lepas ikatan yang pertama. Kemudian, berwudhulah, maka akan lepas ikatan yang kedua. Dan yang terakhir, sholatlah, sholat seperti kami, maka akan lepaslah semua ikatan-ikatan itu.

Wahai orang-orang yang masih terlelap, Masihkah kau menikmati malam-malammu dengan kepulasan? Masihkah? Adakah tergerak hatimu untuk bangkit, bersegera, mendekat kepada-Nya, bercengkerama dengan-Nya, memohon keampunan-Nya, meski hanya 2 rakaat? Tidakkah kau tahu, bahwa Allah turun ke langit bumi pada 1/3 malam yang pertama telah berlalu. Tidakkah kau tahu, bahwa Dia berkata, "Akulah Raja, Akulah Raja, siapa yang memohon kepada-Ku akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Kuberi, dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku akan Ku ampuni. Dia terus berkata demikian, hingga fajar merekah.

Wahai orang-orang yang terbujuk rayu dunia, Bagi kami, manusia-manusia malam, dunia ini sungguh tak ada artinya. Malamlah yang memberi kami kehidupan sesungguhnya. Sebab malam bagi kami adalah malam-malam yang penuh cinta, sarat makna. Masihkah kau terlelap? Apakah kau menginginkan kehidupan sesungguhnya? Maka ikutilah jejak kami, manusia-manusia malam. Kelak kau akan temukan cahaya di sana, di waktu sepertiga malam. Namun jika kau masih ingin terlelap, menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian hangatnya, maka surat cinta kami ini sungguh tak berarti apa-apa bagimu. Semoga Allah mempertemukan kita di sana, di surga-Nya, mendapati dirimu dan diri kami dalam kamar-kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar. Semoga...

*) Repost dari Bulletin Board Friendster, 4 tahun yang lalu...

Kamis, 17 Desember 2009

Sepuluh Tahun Sudah Aku Ada Dalam Dakwah Ini

Liqo. Pertama kali dalam hidup saya mengikutinya pada tahun 2000. Ketika itu saya masih kelas 3 SMP. Berawal dari sebuah pengajian agama yang suka diadakan keluarga saya. Kami biasa belajar agama sekeluarga dengan mengundang seorang ustadz ke rumah. Pengajian, yang selanjutnya saya kenal dengan istilah liqo tersebut biasa kami adakan seminggu sekali setiap hari Ahad. Ustadz yang kami undang tidak lain adalah tetangga kami dekat rumah, suaminya teman pengajian ummi saya. Materi yang diajarkan sang ustadz pun menurut saya sangat umum. Intinya mengajarkan hal-hal yang sangat mendasar dalam Islam, tetapi justru sangat penting peranannya karena bisa dibilang seperti awal pondasi dalam suatu bangunan. Seperti misalnya bagaimana kita mengenal Tuhan, Rasul, makna dan esensi dalam kalimat syahadat, tauhid, shalat, zakat, shaum, dll. Tidak ada sesuatu yang saya anggap "spesial" (pada awalnya) dan hampir sama seperti pengajian-pengajian umum yang suka diadakan di masjid-masjid.

Hingga suatu saat, ustadz meminta kepada saya dan kedua orangtua saya agar mengikuti jenjang yang lebih dikhususkan lagi. Alasan ustadz saat itu, karena beliau menganggap seharusnya saya mendapatkan materi yang lebih mendalam. Karena saya bisa dibilang lebih cepat dalam menangkap apa yang dipelajari. Akhirnya, saya pun menambah jam ngaji saya dengan seorang ustadz yang lain, walaupun saya juga suka tetap ikut kalau ada jadwal pengajian di rumah.

Setelah beberapa kali mengikuti pengajian yang kata ustadz lebih disesuaikan proporsi materinya tersebut, saya merasa memang ada sesuatu yang berbeda dengan apa yang diajarkan di pengajian di rumah dengan di ustadz yang lain tersebut. Bahkan saya sempat merasa kaget ketika suatu saat ustadz mengatakan agar selalu merahasiakan segala apa yang diberikan selama pertemuan. Saya kaget bukan karena harus merahasiakannya. Tapi yang membuat saya kaget adalah, mengapa materi yang menurut saya, sebenarnya tidak rahasia-rahasia amat kok harus dirahasiakan. Bahkan ketika itu kelompok pengajian saya harus memasukkan semua sandal yang kami pakai ke dalam rumah sang ustadz, dan tidak membiarkannya tercecer di depan pintu rumah. Ketika saya tanya alasannya, waktu itu ustadz hanya menjawab, "supaya tidak mencolok kalau di rumah saya sedang banyak orang lagi ngaji."

Saya adalah tipikal orang yang cukup kritis. Jika ada sesuatu hal yang saya rasa tidak dapat saya terima, maka biasanya saya selalu meminta penjelasan tentang hal tersebut. Termasuk tentang keharusan menjaga rahasia kegiatan pengajian yang kami lakukan pada saat itu. Tapi karena ustadz saya dapat menjelaskan dengan baik, dan alasannya dapat saya terima, maka saya pun bersikap taat kepada beliau dan menjaga amanah itu dengan baik.

Begitulah liqo pada awal kemunculannya di permukaan yang saya kenal dan rasakan. Namun setelah kurang lebih satu tahun kemudian, tepatnya tahun 2001, kesan rahasia itu pun makin luntur. Ustadz menjelaskan pada saya bahwa sekarang sudah bukan era-nya lagi kita "sembunyi-sembunyi", sudah saatnya lebih banyak lagi orang yang kita ajak dalam dakwah ini. Itu pula alasan yang membuat saya berani untuk memposting tulisan ini.

Mungkin bagi sebagian orang ada yang bertanya-tanya mengapa dulu liqo diadakan secara sembunyi-sembunyi. Para kader dakwah yang baru terlibat dalam liqo setelah era keterbukaan itu pun mungkin hanya bisa mendengar alasan itu dari para murabbi / murabbiah mereka masing-masing, tanpa pernah merasakan suasana yang dulu dirasakan para pendahulu mereka. Pada mulanya, liqo dilakukan dengan sedikit tersembunyi atau tidak terlalu terbuka. Sekali lagi, maklum, sebab utamanya adalah Orde Baru dan kekuasaan yang tak menghendaki kekuatan lain tumbuh dan menguatkan diri. Tetapi, kian lama kegiatan-kegiatan liqo semakin terbuka, karena memang, tidak satu pun rahasia atau semacam agenda konspirasi yang dibahas dalam pertemuan-pertemuan semacam ini. Liqo membahas masalah-masalah pendidikan karakter dan pribadi, mengajak orang dalam kebaikan, dan berbagi pengalaman dalam konteks keberagamaan.

Sejak dicanangkannya keterbukaan bagi gerakan dakwah ini. Menurut pengamatan saya, gerakan ini semakin tumbuh dengan signifikan. Gerakan ini lah yang selanjutnya lebih dikenal dengan "Tarbiyah". Akhirnya, kampus, diakui atau tidak, menjadi semacam inkubator bagi proses gerakan Tarbiyah. Masa kuliah telah menjadi masa inkubasi bagi para aktivis dakwah Tarbiyah. Masjid-masjid kampus mulai makmur dengan kehadiran mereka, jilbaber-jilbaber pun kian tahun kian banyak ditemui di dalam kampus. Dan, yang paling signifikan adalah, tak hanya ilmu-ilmu eksakta dan humaniora yang mereka pelajari dari kampus-kampus tempat mereka kuliah, tapi juga ilmu-ilmu agama lewat daurah dan dakwah gerakan Tarbiyah.

Tak ayal, bahkan saya sendiri pun pernah dicap sebagai penganut "aliran menyimpang" hanya karena terlihat "berbeda" dengan kebanyakan masyarakat sekitar rumah. Pertentangan itu semakin nyata saya terima ketika saya menjadi ketua perkumpulan remaja masjid dekat rumah. Saya menggerakkan sekelompok pemuda di lingkungan rumah dalam kegiatan dakwah Tarbiyah ini. Mereka anak-anak muda yang berbasis di mushala dan masjid-masjid ini menciptakan ruang maya di tengah masyarakat. Mereka bisa menciptakan sebuah ruang kultural yang bisa dilihat, tapi sulit untuk dilacak dan dibuktikan eksistensinya. Masyarakat sempat dibuat bingung dengan anak-anak muda yang terus lahir, tumbuh, dan hidup di tengah-tengah mereka sendiri, tetapi berbeda ekspresinya dengan masyarakat kebanyakan.

Mereka terus bergerak, membangun pertumbuhan-pertumbuhan lewat liqo-liqo atau halaqoh yang setiap pekan rutin mengadakan pertemuan. Liqo dalam bahasa asalnya, Arab, berarti pertemuan, dan halaqoh adalah kelompok dari pertemuan itu. Tetapi, dalam komunitas Tarbiyah, kata tersebut digunakan untuk terminologi pertemuan dalam rangka pembinaan, baik tentang pemahaman Islam, moral dan akhlak, dakwah dan sosial maupun tentang pendidikan politik dan juga pemikiran.

Salah satu yang layak dicatat sebagai faktor penentu perkembangan dakwah gerakan Tarbiyah ini adalah semangat mereka untuk berbagi kebaikan, seluas mungkin, sebanyak mungkin. Para aktivis Tarbiyah tak menunggu sampai memiliki bertumpuk-tumpuk ilmu, beratus-ratus hafalan hadits atau berjuz-juz hafalan qur’an untuk berdakwah. Satu hadits yang mereka dapatkan dalam pertemuan mingguan, atau satu ayat yang mereka bahas dalam liqo akan segera mereka sebarkan dengan semangat berbagi kebaikan, berbagi ilmu, dan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Mereka mencoba benar-benar mengaplikasikan sebuah hadits dan ayat Al-Qur’an yang berbunyi, Balighu anni walau ayah. Sampaikan dariku walau hanya satu ayat.

Sekarang, sekitar sepuluh tahun sudah saya berkecimpung dalam dakwah ini. Cukup banyak transformasi atau perubahan yang saya rasakan selama perjalanan ini. Ada yang positif, tapi tidak sedikit juga yang negatif. Saya ingin menggaris bawahi, bahwa kalaupun ada yang negatif, saya percaya itu bukan dikarenakan dakwah ini yang salah, tapi lebih dikarenakan sikap dan pemahaman para kader pendakwahnya itu sendiri yang lemah. Saya tidak ingin mengevaluasi siapa pun secara lebih khusus, karena saya sendiri pun masih butuh banyak sekali evaluasi. Hanya saja perlu menjadi catatan bersama bagi kita yang sama-sama ingin dalam satu barisan berdakwah di jalan ini, sudah saatnya kita mengambil banyak pelajaran dari para pendahulu kita. Sebab boleh jadi hal buruk yang kita alami di masa sekarang masih belum ada apa-apanya dengan yang dialami pendahulu kita.

Teringat perkataan seorang umahat, ibu angkat saya, pernah berkata, "Dulu kami berjuang dan berkontribusi di tengah kesempatan yang sempit, sementara sekarang seharusnya para kader dapat bergerak lebih leluasa lagi. Oleh karena itu jangan pernah lalai dalam setiap kesempatan. Teruslah bergerak sampai hanya ada satu hal yang benar-benar dapat membuat kita berhenti bergerak dalam dakwah, itulah kematian."

Wallahu'alam...

Sabtu, 12 Desember 2009

Kamisama no Okurimono (Hidayah dari Tuhan)

Di masa-masa awal memasuki dunia kampus, hampir bisa dibilang tidak berhubungan sama sekali dengan sesuatu yang orang sebut sebagai "agama". Dan saat-saat pertama masuk kuliah pun saya masih selalu berpikir bahwa memang tidak ada urgensi (kepentingan) untuk mempunyai agama.

Pikiran itu berubah ketika saya masuk kuliah. Yakni ketika saya bergabung dengan klub pecinta alam. Saya berpikir, mungkin akan asyik bergabung dengan klub pecinta alam di universitas saya tersebut. Dalam klub ini banyak sekali mahasiswa luar negeri (antara lain dari Indonesia dan Thailand). Dan kebanyakan dari mahasiswa tersebut adalah pemeluk Islam (muslim). Akan tetapi hal itu tak mengubah penafsiran awal, bahwa memang tidak ada "kepentingan yang mendesak" untuk memeluk suatu agama bagi saya.

Dari anggota klub pecinta alam yang lain, saya banyak mengetahui tentang Islam dan kehidupan para muslim di sekitar saya. Saat itu saya tidak melihat agama Islam sebagai sebuah pilihan, akan tetapi saya berpikir bahwa semua agama itu sama. Begitulah, seperti sebelumnya saya tidak tertarik sama sekali menjadi anggota dari orang yang memeluk suatu agama. Banyak hal yang terdengar, dan saya hanya merespon ringan: "Oh begitu ya?" Tidak ada yang berbekas banyak di hati saya. Ibarat berjalan di atas pasir kering, telapak kaki tertinggal hanya beberapa saat saja. Ia akan hilang tertimbun bersama pasir lain.

Sampai suatu hari saya mengikuti sebuah diskusi "Tentang Keberadaan Tuhan". Hal yang amat membekas di dalam hati, dan entah kenapa saya menyetujui bahwa "Tuhan itu Esa". Dan tanpa saya sadari, kehidupan biasa saya pun menghadapi perubahan. Pada musim semi di tingkat dua, saya berkesempatan mengunjungi Indonesia selama satu bulan, menghabiskan libur musim panas. Saya menghabiskan masa liburan dengan berkunjung ke rumah tiga muslim teman kuliah saya. Di sinilah benih-benih hidayah Allah mulai terasa tumbuh di hati.

Kesan saya tentang Islam yang hanya sebatas harus shalat lima waktu dan susah mencari makanan halal itu, menjadi berubah. Di Indonesia, saya sangat terkejut karena tidak ada kesulitan untuk mencari makanan halal. Orang Indonesia bisa berbelanja di supermarket aneka barang yang halal dan dengan bebas. Sama sekali tidak susah.

Kesan saya terhadap masjid pun berubah. Semula bagi saya, masjid adalah tempat ibadah suci, tempat saya yang tak tersentuh, dan tentu, bukan bagian dari kehidupan saya. Tetapi begitu saya ikut teman ke masjid, saya merasa suasana yang berbeda dengan image awal tadi. Ternyata, saya melihat masjid menjadi tempat yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, termasuk diri saya. Suasana yang sebelumnya begitu jauh dari saya, terasa begitu dekat. Masya Allah... saya merasa bahwa Islam itu begitu dekat.

Seiring banyaknya pengalaman yang mendekatkan saya dengan agama Islam, ketika berada di Indonesia saat itu, membuat keinginan saya masuk Islam menjadi kuat. Maka saat itulah saya memutuskan untuk masuk Islam, dari hati terdalam. Mulanya ketika saya masuk Islam, saya hanya ingin disaksikan oleh teman-teman dekat saja. Tetapi skenario Allah SWT tidaklah demikian. Sewaktu kami tiba di masjid, di sana sedang diadakan pengajian umum. Para jamaah sepakat memutuskan agar saya bersyahadat setelah pengajian usai. Jadilah peristiwa saya masuk Islam disaksikan oleh banyak peserta pengajian. Saya pun berislam di tengah-tengah calon saudara seiman saya. Ya, banyak mata yang menyaksikan peristiwa sakral itu...

Dahulu saya berpikir bahwa masuk Islam adalah hal yang sangat sulit. Namun saat saya berikrar menjadi muslim dengan bersyahadat, semua begitu mudah dan cepat! Dalam hati sempat bertanya tak yakin, "Benar nih, saya sudah masuk Islam?" Setelah selesai bersyahadat, semua peserta pengajian menghampiri dan memberikan selamat kepada saya. Salam dan pelukan sebagai ungkapan selamat, datang dari hadirin mendekap saya hangat. Di situlah akhirnya yakin bahwa saya sudah menjadi muslim. Alhamdulillah... Allahu Akbar.

Perasaan saya saat itu, tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, haru biru meletup di kalbu. Tak terasa air mata mengalir begitu saja. Saya sadari, hanya  karena Allah Ta'ala saya bisa menjadi pengikut Rasulullah SAW. Alhamdulillah... sungguh saya bersyukur kepada Allah, mendapatkan karunia ini. Bahagia tiada terperi.

Sekembalinya saya di Jepang, sambil bertanya kepada teman-teman muslim di kampus, sedikit demi sedikit saya mulai belajar tentang agama Islam. Banyak kekhawatiran saya ketika mempelajari tentang agama ini. Namun satu persatu saya coba tempuh. Sekarang saya sangat bersyukur bisa menjadi muslim; pemeluk agama Islam. Dalam Al-Quran yang mulia itu Allah telah menyebutkan keberuntungan ini. "Hai orang-orang yang beriman, dan janganlah sekali-kali kamu  mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali-Imran: 102).

Sekarang saya sudah berkeluarga, telah menikah dengan seorang istri yang juga teman muslim di masa kuliah dulu. Berkah pun bertambah ketika dua putra dan seorang putri cantik telah hadir menemani kami. Berkat dukungannyalah saya bisa hidup di Jepang sebagai seorang muslim hingga hari ini. Walau saya tidak pernah mengungkapkannya dalam kehidupan sehari-hari, lewat forum ini saya ucapkan "Sungguh terima kasih atas dukunganmu belahan hidupku, istriku, Dewi."

*****

Catatan di atas adalah cerita pengalaman berislamnya pak Takanubo Muto, mualaf dari Jepang, yang disampaikan lalu diterjemahkan oleh mbak Rakhma Kumala Dewi (istri pak Takanobu Muto), dan dilengkapi oleh mbak Rose FN, dalam Hikari no Michi.

Rabu, 09 Desember 2009

Kuhamparkan Sajadahku di Negeri Samurai

Hidup sebagai seorang muslim di negara yang mayoritas penduduknya muslim, terkadang membuat muslim di negara tersebut kurang menyadari kenikmatan mereka dalam berislam. Mengapa begitu? Betapa tidak, segala fasilitas yang mendukung peribadatan maupun keperluan untuk menjalani kehidupan sebagai seorang muslim begitu mudah didapatkan. Masjid ada di mana-mana. Masjid satu dengan masjid lainnya terkadang bahkan hanya dipisahkan oleh jarak yang tidak lebih dari 100 meter saja. Musholla bisa ditemui hampir di setiap tempat dan sarana umum. Ruang dakwah begitu terbuka lebar. Kita bisa dengan sangat mudah menemukan tempat-tempat pengajian. Segala kemudahan-kemudahan tersebutlah yang terkadang membuat seorang muslim menjadi tidak begitu menyadari bahwa semua itu merupakan bentuk nikmat yang Allah berikan.

Namun, kondisi seperti itu akan sangat berbanding terbalik dengan kehidupan para muslim yang ada di negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim. Terlebih lagi bagi sebuah negara yang bernama Jepang. Jangankan yang penduduknya pemeluk agama selain Islam, tetapi justru yang namanya "agama" di negeri sakura nampaknya bukan sesuatu yang dianggap penting oleh penduduknya sendiri. Mungkin bagi teman-teman hal seperti itu bukan suatu hal yang wajar. Di mana setiap orang bisa sangat bebasnya menganut pemahaman bahwa agama bukan suatu hal yang penting. Tapi bagi masyarakat Jepang, hal tersebut memang sudah menjadi anggapan yang sangat umum. Oleh karena itu, jangan langsung percaya ketika ada orang Jepang yang memakai simbol-simbol agama tertentu dalam cara berpakaian mereka. Sebab itu belum tentu menggambarkan agama sebenarnya yang dia anut.

Sebagai contoh saja, ada seorang teman nihon jin yang se-kampus dengan saya saat itu, mengenakan kalung salib di lehernya. Saat itu yang ada dalam pikiran saya adalah langsung menebak bahwa dia seorang Nasrani. Tapi kemudian saya dibuat bingung ketika suatu hari dia pernah bercerita pada saya, bahwa dia baru saja mengikuti upacara dalam agama Shinto. "Lho... bagaimana bisa seseorang bisa memiliki dua agama sekaligus?" Begitulah pertanyaan yang ada di dalam benak saya. Tetapi setelah saya tanyakan, ternyata dia sendiri mengaku tidak punya agama. Kalung salib yang dia pakai tidak lebih hanya sebagai mode fashion semata, sedangkan Shinto hanya ia anggap sebagai suatu tradisi yang perlu ia jaga. Terus terang saja, pada awalnya saya dibuat bingung dan terkejut oleh perilaku teman saya tersebut. Tapi lama kelamaan, setelah saya bergaul dengan lebih banyak lagi orang Jepang, akhirnya saya menyadari bahwa sikap seperti itu memang sangat umum bagi masyarakat Jepang.

Ketika saya menginjakkan kaki untuk kedua kalinya di bumi Sakura, tahun 2005 yang lalu, saya tidak begitu menyadari "keanehan" seperti yang saya ceritakan di atas. Saya tahu bahwa Jepang adalah negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim. Hal lain yang saya tahu, Jepang adalah sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama Shinto atau Buddha. Walaupun sebelumnya saya pun pernah mendengar cerita dari ayah saya bahwa sebenarnya banyak orang Jepang yang tak beragama. Akan tetapi saat itu saya tidak langsung percaya. Saya baru percaya setelah akhirnya semua itu saya alami dan rasakan sendiri.

Dulu, sebelum keberangkatan ke Jepang, saya pernah punya sebuah tujuan yang saya anggap lebih mulia daripada sekedar menuntut ilmu di negeri Samurai itu. Tujuan mulia itu adalah tentu saja dakwah. Ikut ambil bagian dalam mensyiarkan agama Islam yang mulia di Jepang. Niat yang sejak awal begitu menggebu-gebu tersebut, akhirnya lama kelamaan harus banyak terbentur dengan segala keterbatasan. Persiapan mental yang sudah saya lakukan sebelum keberangkatan ternyata harus dihadapkan pada sebuah kenyataan betapa sulitnya menjadi seorang muslim di Jepang. Jangankan untuk berdakwah pada masyarakat Jepang, untuk memenuhi kebutuhan beribadah diri sendiri saja saat itu cukup menyulitkan.

Ketika di Indonesia, saya berusaha membiasakan diri untuk shalat tepat pada waktunya. Terkadang kalau sedang dalam perjalanan atau di luar rumah, dan saat itu sudah masuk waktu shalat, biasanya saya sempatkan untuk mencari masjid terdekat yang ada di sekitar tempat saya berada untuk shalat. Tetapi hal seperti itu hampir tidak dapat saya lakukan selama di Jepang. Rutinitas sebagai kenkyusei saat itu mengharuskan saya banyak bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Sewaktu-waktu saya harus mencari literatur dari satu perpusatakaan ke perpustakaan lain. Berpindah lab dari satu lab ke lab lain, dan seterusnya. Ada kalanya ketika sedang dalam perjalanan, tiba waktu shalat. Dalam kondisi seperti itu, tentu bukan suatu hal yang mudah untuk mencari tempat shalat seperti di Indonesia. Jangankan masjid, musholla saja tidak ada.

Kalau sudah dalam kondisi seperti itu, pada awalnya saya suka meng'qodo shalat. Walaupun sebenarnya dalam hati ada juga perasaan bersalah ketika saya meng'qodo shalat. Karena menurut saya, perjalanan yang saya tempuh tidak begitu jauh. Apalagi dengan sistem transportasi di Jepang yang sudah sangat tertib dan nyaman. Baik chikatetsu ataupun densha, semua jam perjalanannya sudah terjadwal dengan baik dan dijamin tidak akan terlambat. Sehingga memungkinkan bagi kita untuk memperhitungkan waktu perjalanan tanpa harus khawatir terlambat karena kendala transportasi seperti mogok atau macet. Saya khawatir kondisi saya pada saat itu tidak cukup dijadikan alasan untuk meng'qodo shalat. Dan jika sudah seperti itu, maka tidak ada cara lain selain tetap shalat walaupun bukan di tempat yang selayaknya untuk shalat.

Oleh karena itu, mulai saat itu saya selalu membawa sajadah yang saya simpan dalam ransel ke manapun saya pergi. Pengalaman pertama ketika saya harus shalat di tempat umum adalah ketika sedang jalan-jalan di sebuah koen. Saat itu sudah tiba waktu dzuhur. Sedangkan saat itu kondisinya sepertinya tidak memungkinkan jika saya harus shalat di masjid atau musholla. Karena di dekat sana tidak ada masjid atau musholla. Akhirnya saya putuskan untuk shalat di tempat itu juga. Saya berwudhu di toilet yang ada di tempat tersebut. Kemudian saya cari tempat yang bersih, tidak di tengah keramaian orang, dan memungkinkan untuk melakukan shalat dengan tenang. Setelah mengamati lingkungan sekitar, akhirnya dapat juga tempat yang cukup nyaman. Tempatnya di belakang papan besar yang bergambarkan peta lokasi koen tersebut. Saya hamparkan sajadah dan memulai shalat di sana.

Setelah sampai pada rakaat kedua, saya lihat di depan ternyata ada seorang anak kecil yang terus saja memperhatikan saya sambil menunjuk-nunjuk ke arah saya. Anak itu tetap saja terlihat walaupun saya sudah menundukkan pandangan ke tempat sujud. Karena merasa terganggu, maka saya pun menutup mata dan terus saja shalat. Tak lama kemudian ternyata anak itu datang lagi, kali ini dengan ibunya. Ternyata dia malah mengajak ibunya untuk melihat gerakan shalat yang saya lakukan. Walaupun tahu bahwa saya tengah jadi objek tontonan bagi mereka, saya berusaha tidak mempedulikan keberadaan mereka dan tetap shalat.

Karena terus merasa diawasi, akhirnya saya terus shalat sambil menutup mata sampai selesai. Setelah selesai dan mengucapkan salam, saya baru membuka mata, dan saya dapati mereka berdua ternyata sudah tidak ada di hadapan saya. "Alhamdulillah sudah shalat, lega..." Gumam saya dalam hati. Segera saja saya lipat sajadah dan memasukkannya kembali ke dalam ransel.

Ketika saya keluar dari balik papan peta lokasi yang besar itu, ternyata anak kecil dan ibu itu masih ada di bagian depan papan. Saya pun tersenyum pada mereka berdua. Ketika saya hendak pergi, sang ibu malah memanggil saya.

"Maaf, apakah saya bisa bertanya sedikit?" Kata si ibu.

"Oh... silahkan, ada apa?" Jawab saya.

"Begini, perkenalkan ini anak saya, namanya Taro, dia tadi bertanya pada saya tentang yang Anda lakukan di balik papan tadi, saya tidak bisa menjawabnya, tapi Taro sangat ingin tahu apa yang Anda lakukan. Saya khawatir memberikan jawaban yang salah pada anak saya. Jadi bisakah Anda menjelaskan gerakan apa yang Anda lakukan tadi di balik papan itu?" Tanya sang ibu.

Saya pun tersenyum mendengar pertanyaan si ibu tadi. Lalu saya jawab, "Tadi saya sedang shalat."

"Shalat? apa itu shalat?" Ibu itu balik bertanya dan nampak kesulitan menyebutkan kata "shalat" dengan lidah Jepangnya.

Kemudian saya berusaha menjelaskan kepada ibu tersebut semampunya yang saya bisa. Saya katakan bahwa shalat adalah ibadah yang harus dilakukan oleh orang beragama Islam, sama seperti ketika ibu melakukan upacara Shinto. Si ibu pun akhirnya mengerti apa yang tadi saya lakukan dan dia pun menjelaskan pada anaknya seperti yang saya katakan.

Begitulah... menyikapi perlakuan seperti itu memang dibutuhkan sikap yang hanif (lurus) dan ahsan (baik). Sebab anggapan mereka yang menyatakan bahwa shalat adalah gerakan-gerakan yang aneh, boleh jadi dikarenakan ketidaktahuan mereka tentang shalat itu sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan sikap yang bijaksana dari kita sendiri untuk menghadapinya. Jangan sampai perlakuan seperti itu malah menjadikan kita malu untuk shalat di tempat umum jika memang sudah waktunya shalat. Sebab semakin sering orang Jepang (nonmuslim) melihat kita shalat, insya Allah lama kelamaan mereka pun akan semakin mengerti akan keharusan tersebut.

Ini hanya sebuah catatan kecil yang ingin saya sampaikan pada teman-teman semua. Pada intinya, janganlah karena suatu alasan yang tidak terlalu mendesak, maka kita melalaikan shalat. Shalat bisa di mana saja dan kapan saja, tentunya selama memenuhi syarat sahnya shalat. Jadi bersyukurlah bagi kita yang hidup di negara mayoritas muslim. Di mana berbagai kemudahan fasilitas beribadah bisa kita dapatkan. Tidak seperti saudara-saudara kita yang saat ini tengah hidup sebagai muslim di negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim.

*****

Kamus mini:

1. Nihon jin : Orang Jepang asli
2. Senpai : Senior / kakak kelas
3. Kenkyusei : Mahasiswa riset
4. Chikatetsu : Kereta bawah tanah (subway)
5. Densha : Kereta rel biasa
6. Koen : Taman kota

Senin, 16 November 2009

Akhwat Korsad VS Ikhwan Santika

Tak seperti biasanya, pengepungan kali ini berjalan begitu lama. Maslamah sendiri, sang panglima khalifah itu tidak dapat menentukan sampai kapan pengepungan itu akan berhasil. Sementara itu, esok atau lusa pasti surat khalifah akan datang dan menanyakan mengapa ekspedisi militernya memakan banyak waktu, tidak seperti biasanya.

Insting kepemimpinannya segera menuntunnya untuk melakukan pengintaian secara rahasia. Ia berniat hendak mencari celah yang mungkin dapat menembus benteng. Maslamah yakin, bahwa kemenangan akan diperoleh, jika pasukannya mampu menembus benteng. Persoalannya, bagaimana yang memungkinkan untuk diterobos itu yang belum ditemukan. Setelah mengadakan penjajagan dengan seksama, Maslamah menyimpulkan bahwa terdapat lorong yang memungkinkan untuk ditembus. Dan itu membutuhkan relawan yang berani untuk melakukannya. Jika ia berhasil masuk ke dalam benteng, maka ia akan dapat membukakan pintu sebagai jalan masuk penyerbuan lebih lanjut. Di kemah, Maslamah membicarakan hal tersebut dengan beberapa perwiranya. Setelah selesai strategi itu dikemukakan, dengan menatap satu persatu wajah para perwiranya, Maslamah menantang siapa di antara mereka yang berani masuk menembus lorong, semuanya diam.

Maslamah tafakur, tiba-tiba dari arah lain datang tentara berkuda dengan wajah ditutup cadar. Ia mengatakan sanggup melaksanakan tugas berat tersebut saat itu juga, karena waktu tersebut dinilai tepat untuk melakukan penyusupan. Maka, ia pun segera berangkat. Maslamah pun melepas dengan bekal do’a. Beberapa waktu kemudian, terdengar suara teriakan takbir dari pintu benteng. Tampaknya dia telah berhasil menerobos benteng. Setelah berhasil membunuh penjaganya, orang bercadar itu segera membuka pintu benteng. Di depan pintu benteng ia berteriak dengan takbir berkali-kali. Suara itu seketika membangkitkan semangat kaum muslimin. Bagaikan air bah, para mujahidin fi sabilillah itu menyerbu ke dalam benteng. Dalam waktu singkat, benteng jatuh dan pasukan musuh dapat dihancurkan. Banyak di antara mereka yang mati, sementara lainnya dapat ditawan.

Setelah perang usai, Maslamah masih memikirkan prajurit bercadar itu. Ia perintahkan seluruh perwiranya untuk mencari, siapakah sebenarnya prajurit bercadar itu. Sampai waktu yang lama, tak ada juga yang mengaku. Namun tak lama berselang kemudian, datanglah orang bercadar dengan berjalan kaki. Sesampainya di depan Maslamah, ia pun bertanya,”Apakah tuan masih mencari prajurit bercadar?”. ” Benar, kaukah orangnya?”, ”Saya dapat menunjukan orangnya, asal Tuan mau berjanji kepadaku!”. ”Baiklah. Apa yang harus kujanjikan untukmu?”. ”Tuan jangan menanyakan siapa namanya. Tuan jangan memberi hadiah apapun kepadanya. Dan ketiga, tuan jangan menceritakan kepada seorangpun! Apakah tuan mau berjanji memenuhi 3 syarat itu?”. ”Ya saya berjanji. Tak akan aku bertanya siapa namanya. Tak akan aku beri hadiah kepadanya dan terakhir, aku berjanji tak akan menceritakan hal dirinya kepada siapapun.” ”Ketahuilah panglima, orang itu adalah yang ada dihadapan Tuan”. Selanjutnya setelah orang bercadar itu berlalu, Maslamah mengangkat tangannya berdo’a, ”Ya Allah kumpulkanlah aku di surga dengan orang bercadar itu!”.

Kisah di atas menggambarkan keihklasan membawa kemenangan. Imam Syahid Hasan al Banna, ”Yang saya maksud dengan ikhlas adalah bahwa seorang al akh hendaknya mengorientasikan perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya kepada Allah swt. Mengharapkan keridhaan-Nya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan, atau kemunduran. Dengan begitu ia telah menjadi tentara aqidah, bukan tentara kepentingan yang hanya mencari kemanfaatan dunia. Dengan begitu seorang al akh telah memahami slogan ”Allah tujuan kami”. Sungguh, Allah Mahabesar dan bagi-Nya segala puji”.

Dakwah ini, dengan segala tribulasinya, membutuhkan mujahid yang tulus dan ikhlas membela Agamanya, bukan yang berharap bidadari atas amal yang telah dilakukannya, apalagi menurutnya bidadari itu telah turun ke bumi semenjak Islam mulai bangkit lagi di bumi ini. Bidadari-bidadari itu menghias diri setiap hari. Dia berwujud manusia yang berhati lembut, dipandang mata, menyejukkan dilihat, menentramkan hati setiap pemiliknya. Dialah wanita shalihah yang menjaga kesucian dirinya. Sehingga di penghujung do’anya ”Ya Allah, jadikanlah aku orang yang senantiasa dikelilingi oleh bidadari-bidadari bumi. Agar kelak di surga aku tidak canggung lagi”. Awas ikhwan santika, mujahid berjilbab yang senang dikelilingi para akhwat dan betah bekerja di lingkungan keakhwatan.

Alangkah indahnya Islam. Kedudukan manusia dinilai dari ketaqwaannya, bukan dari gendernya. Ini adalah strata terbuka sehingga siapa saja berpeluang untuk memasuki strata taqwa.

Ikhwan dan akhwat adalah dua makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbeda. Di lapangan, ikhwan dan akhwat harus menjaga hijab satu sama lain, namun tentu bukan berarti harus memutuskan hubungan, karena dalam dakwah, ikhwan dan akhwat adalah seperti satu bangunan yang kokoh, yang sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 9: 71). Dakwah selalu berubah dan membutuhkan kegesitan atau gerak cepat dari para aktivisnya. Sedangkan permasalahan dakwah di lapangan semakin kompleks, sehingga membutuhkan aktivis yang tanggap dan bisa membaca situasi. Jangan sampai seperti dalam beberapa situasi diindikasikan bahwa ghirah, militansi, dan keagresifan berdakwah akhwat lebih daripada ikhwan sehingga timbul istilah akhwat korsad, militan, perkasa, dan mandiri. Semoga alur dakwah kita kembali menemukan format yang sebenarnya, ikhwan korsad dan akhwat santika.

ikhwan apa bakwan
wajah penuh jerawat seperti thokolan
katanya karena mikirin ummat yang jutaan
tidak tahunya mikirin akhwat idaman

ikhwan apa bakwan
dari jauh nampak sopan
berjalan gagah pengen jaga pandangan
ternyata mata juga jelalatan

ikhwan apa bakwan
kalo taklim serius tahan godaan
liat ustad penuh perhatian
tapi sama akhwat kelepek-kelepek belingsatan

ikhwan apa bakwan
wajah santun jenggotan
pengen nyunah rosul tauladan
apa daya cuman bergaya biar terlihat tampan...

PENGEN NGINGETIN AZA WAN!

ada apa dengan ikhwan
mau nikah malah kelamaan
akhwatnya sudah menanti ampe jamuran (ups)
tapi tuh ikhwan gak juga khitbah akhwat idaman

ada apa dengan ikhwan
mau nikah mikirnye kelamaan
mikir makan, anak dan kontrakan
tenang Wan ente kan punya Allah yang bisa kasih bantuan

ada apa dengan ikhwan
mau nikah banyak aturan
harus cantik, putih, kaya dan menawan
inget dong apa yang rosul telah katakan

ada apa dengan ikhwan
mau nikah banyak alasan
gaji, kuliah, sampe ortu jadi sasaran
kasihan kan akhwat yang cantik nunggu kelamaaan

ada apa dengan ikhwan
baca beginian sampe marah dan menaruh dendam
peace Wan, peace Wan
cuman mengingatkan Wan (nyok makan Bakwan)..hehe


(Hanya sebuah renungan untuk yang mengaku sedang berjuang)

Wallahu’alam.

Sumber:
di situ dengan isi yang sudah diedit seperlunya.