Tampilkan postingan dengan label japanology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label japanology. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Desember 2010

Standar Gaji di Jepang VS Biaya Hidupnya

"Data pribadi yang paling tidak ingin diketahui oleh orang lain kalau pria adalah penghasilan, sedangkan wanita adalah alama”, demikian hasil survey yang diumumkan oleh Nihon RSA pada tahun 1998. Tetapi, besarnya gaji di Jepang mungkin adalah salah satu hal yang menarik untuk diketahui, terutama mereka yang ingin bekerja di Jepang. Saya mau ngasih informasi tentang berapa gaji macam-macam pekerjaan di jepang.

1. Perdana Menteri (41.65) = Rp 4,165 miliar/tahun

2. Menteri (30.41) = Rp 3,041 miliar /tahun

3. Anggota Parlemen (22.28) = Rp 2,228 miliar/tahun

4. Pengacara/”bengoushi” (21.01) = Rp 2,101 miliar/tahun

5. Pilot (17.13) = Rp 1,713 miliar/tahun

6. Dokter (12.27) = Rp 1,227 miliar/tahun

7. Professor (11.53) = Rp 1,153 miliat/tahun

8. Associate Professor (9.17) = Rp 917 juta / tahun

9. Polisi (8.40)= Rp 840 juta / tahun

10. Wartawan (7.82)= Rp 782 juta / tahun

11. Guru SMA (7.41) = Rp741 juta/ tahun

12. Pegawai Pemda (7.28) = Rp 728 juta/ tahun

13. Guru Sekolah Kejuruan (5.38) = Rp 538 juta / tahun

14. Perawat (4.64) = Rp 464 juta/ tahun

15. Salaryman (4.39)= Rp 439 juta/tahun

16. Programmer (4.12)= Rp 412 juta/tahun

17. Guru TK (3.28)= Rp 328 juta/tahun

18. Supir Taxi (3.06)= Rp 306 juta /tahun

1. Gaji di Jepang umumnya dihitung berdasarkan pendapatan kotor per tahun (“nenshu”, 年収), sebelum dikurangi dengan pension (“nenkin”,年金), asuransi (“hoken”,保険) dsb.

2. Pendapatan pertahun (年収) terdiri dari dua komponen : gaji (“kyuuyo”,給与) + bonus (“shouyo”, 賞与). Besarnya bonus tidak seragam. Ada yang besarnya tiga kali pendapatan per bulan, dua kali, atau tidak sama sekali.

3. Besarnya gaji dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain lama kerja dan usia.

4. Ada beberapa sumber mengenai gaji berbagai profesi di Jepang. Data di bawah berasal dari majalah President bulan Desember 2005 yang dikutip di situs Ini . Angka yang tercantum di dalam kurung adalah rata-rata pendapatan per tahun (bukan per bulan), dalam satuan juta yen. Hanya sebagian data saja yang ditampilkan. Sayang saya belum membaca artikel aslinya, sehingga tidak tahu secara detail bagaimana survey itu dilakukan.

Ini baru gaji bersih gan belom di tambah gaji kotor, kalo udah ditambah bakalan 3x lipat kali.

Kurs yang saya pakai Rp 100 = 1 Y

Padahal data di atas nilainya bisa lebih tinggi, soalnya:

5. Data dari NTA (National Tax Agency) menyebutkan bahwa pada tahun 2005, banyaknya orang yang memiliki penghasilan di Jepang dan bekerja selama 1 tahun adalah 44.94 juta orang. Rata-rata pendapatan mereka sebesar 4.37 juta yen (dalam satu tahun). Pekerja pria 27.74 juta orang dan rata-rata penghasilannya 5.38 juta yen. Sedangkan wanita, 17.20 juta orang dan rata-rata penghasilannya 2.73 juta yen.

6. Rata-rata penghasilan part time job (arubaito) : 966 yen (Juni 2006).

7. Sekedar referensi saja, beasiswa Monbukagakusho per bulan untuk tahun finansial 2007/2008 sekitar 134 ribu yen (S1) dan 172 ribu yen (S2 dan S3), berarti per tahun 1.7 juta (S1) dan 2.1 juta (S2). Beasiswa ini adalah jumlah bersih yang diberikan kepada siswa untuk hidup sehari-hari (membayar sewa apartemen, makan, minum, dsb.), di luar uang kuliah. Hanya saja beasiswa ini tidak dianggap sebagai penghasilan, dan pelajar dianggap zero income, sehingga tidak dikenakan pajak penghasilan.

8. Angka di atas kalau dikonversikan ke rupiah akan terkesan sangat besar. Tetapi hal ini tidak lantas berarti menggambarkan taraf kemakmuran seseorang dari sudut pandang Indonesia, demikian pula sebaliknya. Untuk memberikan gambaran yang tepat dan fair, perlu ditambahkan informasi living cost di negara tersebut. Hal ini karena terdapat perbedaan signifikan pada living cost antara keduanya. Saya pernah ditanya oleh teman Jepang mengenai besarnya gaji di Indonesia. Jawaban sederhana adalah dengan mengkonversikan angka tersebut ke yen. Orang Jepang yang mendengarnya akan terkejut, karena gaji sebesar itu tidak akan cukup dipakai hidup di Jepang. Tetapi saat saya jelaskan bahwa biaya hidup di Indonesia sangat jauh berbeda dengan di Jepang, baru teman saya tersebut memahaminya.

9. Berkaitan dengan point 8 di atas, salah satu parameter yang sering dipakai untuk mengukur tingkat standard hidup adalah Engel’s coefficient. Engel’s Coefficient didefinisikan sebagai prosentase penghasilan yang dipakai untuk belanja kebutuhan primer pangan (飲食費) terhadap total pengeluaran bulanan. Semakin rendah nilainya, berarti semakin tinggi tingkat standard hidupnya.

Biaya Hidup di Jepang

Tempat Tinggal (untuk sendirian):
Sewa Apartemen per bulan ¥75.000= Rp 7.500.000
Rekening Air Bulanan ¥3.000= Rp 300.000
Rekening Gas Bulanan ¥2.500= Rp 250.000
Rekening Listrik Bulanan ¥5.000= Rp 500.000
Rekening Telepon Bulanan ¥2.000= Rp 200.000

Makanan & Minuman:

Nasi Kari (1 porsi) ¥743= 74.300
Burger di McDonald's ¥100= 10.000
Mie Ramen (1 mangkuk) ¥586= 58.600
Mie Ramen Instan (77g) ¥145=14.500
Bento - makan siang (1 kotak) ¥545= 54.500
Pizza (1 porsi ukuran medium) ¥2.000= 200.000
Air Minum Mineral (2.000 ml) ¥136= 13.600
Starbucks latte/cappuccino ¥350= 35.000
Coca-Cola (355ml) ¥120 =12.000
Es Krim (120ml) ¥268= 26.800
Susu (1,000 ml) ¥212= 21.200
Coklat (65g) ¥106= 10.600
Pisang (1kg) ¥235= 23.500
Jeruk (1kg) ¥377= 37.700
Roti Tawar ¥150= 15.000

Lain-Lain:

Langganan Internet ¥4.000= 400.000
1 Tiket Nonton Bioskop ¥1.800= 180.000
Pulsa Ponsel/Hape Bulanan ¥4.500= 450.00
Sewa DVD (1 film baru per hari) ¥500= 50.000
Sewa DVD (1 film lama per minggu) ¥350= 35.000
1 Tiket Subway ¥160 - ¥300= 16.000-30.000
Potong Rambut ¥2.500=25.000
Detergen (1kg) ¥328= 32.800
Kertas Toilet ¥250= 25.000
Obat Flu ¥1,545= 154,5 (paling murah)
Sikat Gigi ¥100= 10.000
Pasta Gigi ¥250= 25.000

Jadi tips agar bisa survive di Jepang

1. Carilah tempat tinggal di daerah pinggiran Tokyo


Di Haramachi Meguro ada tempat seperti kos-kosan yang bisa kamu sewa sekitar ¥30.000 per bulan. Hanya 1 kamar sempit. Tanpa WC. Tanpa apa-apa. Atau ada juga yang tipe asrama dimana kamu berbagi kamar dengan 4-5 orang lainnya.

2. Jangan sering-sering cari hiburan


Kalau kamu mau jalan-jalan jauh, kamu pasti mengeluarkan ongkos kereta api. Atau kalau kamu jalan kaki, kamu pasti cepat lelah dan harus makan di luar. Ini adalah pengeluaran yang tidak perlu. Cari hiburan atau makan di restoran tentu saja boleh, asal jangan keseringan

3. yang paling penting - carilah teman seperjuangan yang bisa diajak susah bareng.

Tokyo adalah tempat yang sangat menggiurkan untuk menghamburkan uang, jadi berhati-hatilah. Dengan adanya teman yang bisa diajak susah bareng dan seneng sendiri-sendiri, beban biaya hidup kamu pasti bisa berkurang.

Biaya sewa tempat dibagi dua, tagihan listrik dan air dibagi dua, sampai ke sikat gigi yang dipakai berdua .

Jadi murah kan? hehehe...


Makanan yang mereka jual biasanya makanan tradisional Jepang , bir dan sake. Yatai ini bisa ditemukan hampir di semua daerah di Jepang, namun Fukuoka menjadi tempat yang paling terkenal akan Yatai ini. Biasanya makanan yang mereka sajikan adalah Yakitori, Oden dan Hakata Ramen yang merupakan makanan kebanggaan bagi masyarakat di Fukuoka.


Makan di Yatai ini menjadi sebuah alternatif yang bagus daripada makan di restoran apabila memperbandingkan harga, karena makan di yatai ini relatif lebih murah dibandingkan dengan makan di restoran. Bagaimana dengan tingkat kebersihan makanan nya? Jangan khawatir,karena yatai ini sudah mendapat izin mengenai kebersihan nya dari pemerintah kota.

Rabu, 03 November 2010

Keranjangkecil : Cerita terbuang tentang Jepang

http://www.eonet.ne.jp/~limadaki/budaya/jepang/
link reference yang bagus buat teman-teman yg ingin tahu informasi seputar Jepang. Tulisannya orisinil, unik, dan menarik untuk dibaca. Oh iya... ada juga tulisan saya yang nyangkut di sana. Hehehe...

Sabtu, 12 Desember 2009

Kamisama no Okurimono (Hidayah dari Tuhan)

Di masa-masa awal memasuki dunia kampus, hampir bisa dibilang tidak berhubungan sama sekali dengan sesuatu yang orang sebut sebagai "agama". Dan saat-saat pertama masuk kuliah pun saya masih selalu berpikir bahwa memang tidak ada urgensi (kepentingan) untuk mempunyai agama.

Pikiran itu berubah ketika saya masuk kuliah. Yakni ketika saya bergabung dengan klub pecinta alam. Saya berpikir, mungkin akan asyik bergabung dengan klub pecinta alam di universitas saya tersebut. Dalam klub ini banyak sekali mahasiswa luar negeri (antara lain dari Indonesia dan Thailand). Dan kebanyakan dari mahasiswa tersebut adalah pemeluk Islam (muslim). Akan tetapi hal itu tak mengubah penafsiran awal, bahwa memang tidak ada "kepentingan yang mendesak" untuk memeluk suatu agama bagi saya.

Dari anggota klub pecinta alam yang lain, saya banyak mengetahui tentang Islam dan kehidupan para muslim di sekitar saya. Saat itu saya tidak melihat agama Islam sebagai sebuah pilihan, akan tetapi saya berpikir bahwa semua agama itu sama. Begitulah, seperti sebelumnya saya tidak tertarik sama sekali menjadi anggota dari orang yang memeluk suatu agama. Banyak hal yang terdengar, dan saya hanya merespon ringan: "Oh begitu ya?" Tidak ada yang berbekas banyak di hati saya. Ibarat berjalan di atas pasir kering, telapak kaki tertinggal hanya beberapa saat saja. Ia akan hilang tertimbun bersama pasir lain.

Sampai suatu hari saya mengikuti sebuah diskusi "Tentang Keberadaan Tuhan". Hal yang amat membekas di dalam hati, dan entah kenapa saya menyetujui bahwa "Tuhan itu Esa". Dan tanpa saya sadari, kehidupan biasa saya pun menghadapi perubahan. Pada musim semi di tingkat dua, saya berkesempatan mengunjungi Indonesia selama satu bulan, menghabiskan libur musim panas. Saya menghabiskan masa liburan dengan berkunjung ke rumah tiga muslim teman kuliah saya. Di sinilah benih-benih hidayah Allah mulai terasa tumbuh di hati.

Kesan saya tentang Islam yang hanya sebatas harus shalat lima waktu dan susah mencari makanan halal itu, menjadi berubah. Di Indonesia, saya sangat terkejut karena tidak ada kesulitan untuk mencari makanan halal. Orang Indonesia bisa berbelanja di supermarket aneka barang yang halal dan dengan bebas. Sama sekali tidak susah.

Kesan saya terhadap masjid pun berubah. Semula bagi saya, masjid adalah tempat ibadah suci, tempat saya yang tak tersentuh, dan tentu, bukan bagian dari kehidupan saya. Tetapi begitu saya ikut teman ke masjid, saya merasa suasana yang berbeda dengan image awal tadi. Ternyata, saya melihat masjid menjadi tempat yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, termasuk diri saya. Suasana yang sebelumnya begitu jauh dari saya, terasa begitu dekat. Masya Allah... saya merasa bahwa Islam itu begitu dekat.

Seiring banyaknya pengalaman yang mendekatkan saya dengan agama Islam, ketika berada di Indonesia saat itu, membuat keinginan saya masuk Islam menjadi kuat. Maka saat itulah saya memutuskan untuk masuk Islam, dari hati terdalam. Mulanya ketika saya masuk Islam, saya hanya ingin disaksikan oleh teman-teman dekat saja. Tetapi skenario Allah SWT tidaklah demikian. Sewaktu kami tiba di masjid, di sana sedang diadakan pengajian umum. Para jamaah sepakat memutuskan agar saya bersyahadat setelah pengajian usai. Jadilah peristiwa saya masuk Islam disaksikan oleh banyak peserta pengajian. Saya pun berislam di tengah-tengah calon saudara seiman saya. Ya, banyak mata yang menyaksikan peristiwa sakral itu...

Dahulu saya berpikir bahwa masuk Islam adalah hal yang sangat sulit. Namun saat saya berikrar menjadi muslim dengan bersyahadat, semua begitu mudah dan cepat! Dalam hati sempat bertanya tak yakin, "Benar nih, saya sudah masuk Islam?" Setelah selesai bersyahadat, semua peserta pengajian menghampiri dan memberikan selamat kepada saya. Salam dan pelukan sebagai ungkapan selamat, datang dari hadirin mendekap saya hangat. Di situlah akhirnya yakin bahwa saya sudah menjadi muslim. Alhamdulillah... Allahu Akbar.

Perasaan saya saat itu, tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, haru biru meletup di kalbu. Tak terasa air mata mengalir begitu saja. Saya sadari, hanya  karena Allah Ta'ala saya bisa menjadi pengikut Rasulullah SAW. Alhamdulillah... sungguh saya bersyukur kepada Allah, mendapatkan karunia ini. Bahagia tiada terperi.

Sekembalinya saya di Jepang, sambil bertanya kepada teman-teman muslim di kampus, sedikit demi sedikit saya mulai belajar tentang agama Islam. Banyak kekhawatiran saya ketika mempelajari tentang agama ini. Namun satu persatu saya coba tempuh. Sekarang saya sangat bersyukur bisa menjadi muslim; pemeluk agama Islam. Dalam Al-Quran yang mulia itu Allah telah menyebutkan keberuntungan ini. "Hai orang-orang yang beriman, dan janganlah sekali-kali kamu  mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali-Imran: 102).

Sekarang saya sudah berkeluarga, telah menikah dengan seorang istri yang juga teman muslim di masa kuliah dulu. Berkah pun bertambah ketika dua putra dan seorang putri cantik telah hadir menemani kami. Berkat dukungannyalah saya bisa hidup di Jepang sebagai seorang muslim hingga hari ini. Walau saya tidak pernah mengungkapkannya dalam kehidupan sehari-hari, lewat forum ini saya ucapkan "Sungguh terima kasih atas dukunganmu belahan hidupku, istriku, Dewi."

*****

Catatan di atas adalah cerita pengalaman berislamnya pak Takanubo Muto, mualaf dari Jepang, yang disampaikan lalu diterjemahkan oleh mbak Rakhma Kumala Dewi (istri pak Takanobu Muto), dan dilengkapi oleh mbak Rose FN, dalam Hikari no Michi.

Selasa, 08 Desember 2009

Kuil Ryohoji, Sebuah Kuil Shinto Bergaya Anime




Entah karena anak muda di Jepang sudah pada malas untuk pergi ke kuil/ vihara (temple) atau karena alasan lain, sebuah vihara yang berada di Tokyo, Jepang sedikit merubah penampilannya.

Untuk lebih menarik anak muda disana, Ryohoji Temple yang dibangun pada abad 16, telah menggabungkan unsur anime yang sangat digemari para Otaku (penggila anime/ teknologi).

Mereka memasang papan iklan dengan gambar anime bahkan membuat web yang sangat bernuansa anime untuk menarik para generasi muda untuk datang.

Di setiap akhir minggu, mereka juga menggelar bazar yang juga berbau anime dan dari semua kerja keras tersebut, ternyata saat ini, Ryohoji Temple sudah mulai banyak dikunjungi para anak muda, terutama bagi para pecinta anime. :-)

Perkembangan sebuah kuil yang mencoba mengikuti jaman bukan saja baru kali ini terjadi sebelumnya kami juga pernah membahas tentang sebuah kuil di Jepang yang akan “memberkati” gadget supaya terhindar dari malapetaka. :-)

Sumber foto & berita ada di: http://ryohoji.jp/top.html

Selasa, 03 November 2009

Putra Mahkota Jepang yang Merakyat




Pada video tersebut terlihat ayah dan ibunya si Aiko, yang tidak lain adalah anak dari kaisar Jepang.

Sebuah pemandangan yang jarang ada di Indonesia dimana mereka (orang tua Aiko) begitu membaur dengan warga Jepang lainnya dan bahkan duduk di bangku biasa tanpa adanya perlakukan khusus padahal sang ayah adalah putera mahkota.

Itulah yang saya sukai bila berada di negara maju seperti Jepang karena biasanya mereka tidak mengenal kata si miskin dan si kaya, semuanya mendapat perlakukan yang sama.

Saya kadang hanya sedih melihat pejabat disini dekat dengan rakyat apabila ada maunya, seperti pada saat dekat pemilu

Selasa, 13 Oktober 2009

Sosok Miyabi di Tengah Masyarakat Jepang

Ada satu topik yang nampaknya sedang hangat jadi bahan pembicaraan di Indonesia. Di TV, koran, radio, bahkan sampai MP-ers pun ikut-ikutan ramai-ramai mengangkatnya jadi topik postingan mereka. Bahkan sampai ada juga yang mengkampanyekan penolakan mereka dengan mengganti headshotnya dengan gambar bernada penolakan. Apakah itu? Hohoho... itu dia si Miyabi. Cewek blasteran Jepang - Perancis itu rencananya akan datang ke Indonesia, menurut sumber sih harusnya hari ini (Rabu, 13 Oktober 2009). Tapi saya yakin lah kedatangannya kalau nggak batal, minimal pasti dipending karena ekspresi penolakan yang terus digelorakan. Katanya sih doi hanya berlaku sebagai bintang tamu dari suatu film komedi, bukan porno, yang akan dibuat suatu rumah produksi di Indonesia.

Sebenarnya malas sih membuat tulisan ini. Sebab takutnya malah akan membuat perbincangan ini makin melebar ke mana-mana. Sebagai implikasinya, pasti akan semakin membuat orang penasaran. Yah... namanya juga orang Indonesia, eh... sebenarnya bukan hanya orang Indonesia sih, tapi sepertinya sudah jadi sifat umum orang. Sesuatu yang terus-menerus diberitakan, ditayangkan secara berulang-ulang, dibahas di berbagai tempat pasti akhirnya akan jadi sebuah berita heboh dan dapat mempengaruhi opini masyarakat. Yang tadinya nggak tau, akhirnya pada ingin mencari tau. Termasuk teman-teman saya.

Gara-gara ramainya perbincangan ini di Indonesia, saya sampai lumayan kewalahan meladeni pertanyaan beberapa kawan tentang sosok Miyabi sendiri di Jepang. Padahal sebelum hal ini ramai dibicarakan orang, mereka culun-culun dan tidak tau sebenarnya Miyabi itu apa sih? Ada hubungannya dengan Mi Ayam atau Mi Goreng kah? Kecuali mereka yang hobinya nonton film-film bo**p yang bintangnya adalah Miyabi, so pasti sudah nggak asing lah dengan sosok Miyabi. Yang saya sesalkan, ternyata mereka yang culun-culun itu juga ikut-ikutan penasaran dengan Miyabi. Tapi untungnya mereka nggak sampai iseng-iseng donlot videonya di internet atau situs-situs penyedia video porno. Mereka hanya sekedar ingin tau dengan bertanya ke beberapa sumber, termasuk saya. (Kesannya tuh si Dimas udah kayak pengamat film yang begonoan yah!). Nggak lah... mereka bertanya pada saya karena saya tinggal cukup lama di Jepang, jadi mereka pikir saya bisa memberi mereka informasi yang cukup dan dapat memenuhi keingintahuan mereka. Wajar saja sih, namanya juga orang yang ingin tau.

Terus terang, walaupun saya cukup lama tinggal di Jepang, tapi saya sendiri tidak begitu tau latar belakang Miyabi. Tapi bukan berarti saya tidak tau sama sekali sih. Saya tau beberapa hal tentang dia. Ingat, hanya sebatas tau lho! Jangan salah sangka apalagi su'udzon sama saya okay! Mengingat teman-teman Jepang saya pun ada yang nge-fans sama Miyabi. Jadi saya korek-korek informasi dari mereka.

Kata mereka yang diceritakan ke saya, Miyabi itu keturunan Jepang - Perancis. Nama aslinya adalah Maria Ozawa. Sebelum dia malang-melintang di dunia ke-porno-an, ternyata dia pernah punya pengalaman yang buruk di masa remajanya. Jadi ceritanya, ketika berusia 13 tahun, dia pernah berhubungan intim dengan pacarnya (entah diperkosa atau nggak ya?). Terus mulai dari situ, dia bukannya terus tobat tapi malah makin penasaran dengan yang namanya hubungan intim itu. Bahkan dia sampai rajin buka-buka dan baca buku yang isinya tentang hubungan intim. Kemudian dia mulai suka foto-foto tubuhnya sendiri dalam keadaan telanjang. Sampai akhirnya ada sebuah agency fotografi yang menawari dia untuk berfoto telanjang. Eh... dia malah menerima tawarannya. Akhirnya itu lah saat pertama kalinya dia eksis di dunia pornografi. Ketika majalah itu sudah terbit, dia bahkan dengan bangganya menunjukkan majalah yang sampul depannya adalah dirinya sendiri dalam keadaan telanjang ke kedua orangtuanya. Pastinya orangtuanya langsung ngamuk! Tapi ternyata kemarahan orangtuanya tidak lantas mengurungkan niatnya untuk berhenti di bidang pornografi. Yang awalnya hanya sekedar berfoto telanjang ria di majalah, dia pun mulai berani menjual tubuhnya untuk beradegan film porno. Bahkan pernah suatu saat dia menunjukkan 20 DVD film porno yang dia bintangi di depan orangtua dan keluarganya (kurang ajar and gak tau malu banget itu orang! ckckckck...). Setelah itu orangtuanya dan seluruh keluarganya mengucilkan Miyabi bahkan tidak menganggapnya sebagai anak dan bagian dari keluarga mereka.

Nah... terus bagaimana tanggapan masyarakat Jepang sendiri tentang sosok Miyabi. Ada dua anggapan tentang Miyabi yang berkembang di Jepang. Pertama, jelas saja banyak yang menentang. Bahkan konon kabarnya Miyabi itu sangat menghindari tempat-tempat umum. Karena dia ketakutan kalau sampai ketahuan, dia akan langsung ditimpuk sama sendal dan sepatu orang-orang yang membencinya. Bahkan dia sekarang tinggal di sebuah apartemen di Tokyo yang konon sangat tertutup dan dijaga puluhan bodyguard-nya. Jadi... masyarakat Jepang tempat asalnya Miyabi aja memang sangat tidak suka dengan keberadaannya kok. Nah ini kita yang di Indonesia kok malah mengundang dia datang ya? Heran saya...!
Walaupun banyak yang menentang, tapi bukan berarti tidak ada yang suka lho! Ada juga beberapa orang yang meng-idola-kan Miyabi. Ya siapa lagi kalau bukan pria-pria (bahkan perempuan juga ada) hidung belang.

Hmmm... saya jadi ingin cerita sedikit tentang pornografi di Jepang nih. Pernah suatu ketika saya jalan-jalan di pertokoan kawasan Shibuya. Di sana ada toko DVD, karena ingin melihat-lihat, saya pun masuk ke sana. Betapa kagetnya saya begitu melihat ternyata di toko itu dijual berbagai macam DVD porno Jepang secara terbuka. Berbeda dengan di Indonesia yang penjualnya biasanya masih "agak bermoral" dengan menjualnya secara sembunyi-sembunyi. Nah... kalau di Jepang mah benar-benar dijembreng begitu aja di etalase. Nggak kebayang itu kalau anak-anak kecil sampai ada yang lihat. Walaupun pada akhirnya mereka nggak dibolehkan beli sih, tapi kan tetap aja nggak bener tuh! Haduh... parah! Saya kira hal seperti itu hanya ada di toko DVD yang kebetulan saya singgahi saja, eh ternyata banyak DVD store, terutama yang besar-besar menjual DVD porno juga secara terbuka. Lucunya lagi, dulu pernah pas pulang dari kampus mau ke asrama lihat antrian orang pada perebutan masuk sebuah toko. Karena saya penasaran, saya jadi ikutan ngantri. "Itu ada apaan sih rame banget", kata saya dalam hati. Eh begitu lihat ke dalam, nggak taunya apa coba? Itu cowok-cowok pada perebutan ingin beli DVD porno yang sedang di obral. Weleh... weleh...

Jepang sepertinya memang sedang dilanda masalah yang serius dengan pornografi. Tidak hanya sebatas video saja. Pornografi juga sudah merambah ke majalah, komik, bahkan acara televisi yang isinya bincang-bincang masalah yang nggak penting, ngeres, dan ngaco. Tapi emang dasar tipikal masyarakat Jepang yang cenderung cuek. Mereka biasanya tidak ambil pusing dengan hal itu. Bagi mereka itu biasa saja. Tinggal pintar-pintar menentukan pilihan.

Jadi intinya, penolakan kita terhadap kedatangan Miyabi ke Indonesia adalah bukan karena apakah dia hanya sekedar akan main film komedi atau porno saja. Kan sekarang opini yang berkembang adalah ya nggak papa lah dia datang ke Indonesia, wong dia bukan main film porno kok. Weits... nanti dulu men! Intinya bukan di situ, tapi lebih kepada ikon Miyabi sendiri yang memang nggak bener. Sama halnya ketika kita ribut soal majalah Playboy dulu. Ada yang beranggapan majalah Playboy yang di Indonesia mah nggak kayak yang di Amrik sono. Nggak vulgar gitu katanya. Tapi kan tetap saja, yang jadi persoalan adalan ikon, pencitraan dari majalah itu sendiri yang sudah buruk. Nah... begitu juga dalam kasus Miyabi ini. Lha wong orang Jepang sendiri jelas nggak suka kok dengan sepak terjang artis porno yang satu itu. Nah kita yang bukan orang Jepang kok malah berniat ikut mempopulerkan dia di Indonesia ya? Haduh... haduh...

Sudah lah... kalau mau bikin film mbo' ya yang mendidik gitu lho. Sudah cukup lah kita disuguhi tontonan yang kurang baik di televisi. Masa' masih mau ditambahin lagi seh? Mau dikemanakan nih moral bangsa yang katanya sudah semakin bobrok ini. Bahkan ada juga orang yang sempet-sempetnya bilang, toh sebelum datang Miyabi, moral Indonesia udah rusak kok. Weleh.... kemana pikirannya tuh orang yang ngomong kayak gitu. Ya kalau sudah jelas rusak apalagi ditambahin yang nggak bener, pasti makin rusak lah kita! Makanya... ayo SAY NO TO PORNOGRAPHY, NOT ONLY MIYABI.