Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Desember 2009

Mengubah Cemburu Menjadi Energi Positif

Cemburu, dalam bahasa Arab dikenal sebagai ghoirah dan dalam bahasa Inggris disebut jealousy. Menurut saya, kalaupun seseorang merasakan perasaan tersebut merupakan suatu gejala yang fitrah, wajar, dan alamiah dari seseorang sebagai rasa cinta, sayang, saling memiliki, melindungi (proteksi) dan peduli satu sama lain.

Membicarakan hal yang satu itu, membuat saya teringat kisah-kisah asmara dan romantisme kehidupan keluarga Rasulullah bersama istri-istrinya dahulu. Dikisahkan, istri Rasulullah, Aisyah Radiallahuan pun pernah merasa cemburu kepada suaminya. Dalam sebuah riwayat pernah diceritakan. Pada suatu malam Aisyah pernah ditinggal Rasulullah. Aisyah menyangka bahwa Rasul sedang pergi ke rumah istri beliau yang lain. Kemudian oleh Aisyah diselidiki. Setelah diselidiki, ternyata Rasulullah sedang ruku atau sujud sambil berdoa: "Maha suci Engkau dan Maha Terpuji Engkau, tiada sesembahan yang benar melainkan Engkau. Maka Aisyah pun berkata: "Sungguh-sungguh Anda (Rasul) dalam keadaan satu keadaan (ibadah), sedang saya dalam keadaan lain (digoda oleh rasa cemburu)." Riwayat hadits ini shahih lho, diriwayatkan oleh Muslim: I/351-352; Abdul Baqi, An-Nasi'i VII/72, ath-Thayalisi 1405 dan lainnya.

Ah... tapi tunggu dulu, bukankah itu adalah kisah kecemburuan seorang Aisyah kepada Rasulullah? Seorang lelaki mulia yang memang telah sah menjadi suaminya. Memang, ketika perasaan cemburu itu datang, ia tidak pernah memandang apakah itu terjadi di antara sepasang suami-istri atau bukan. Rasa cemburu bisa datang dan dialami siapapun. Bahkan saya pun pernah merasa cemburu dan merasa dicemburui. Namun terkadang saya juga suka merenung. Sering terlintas dalam benak saya beberapa hal terkait perasaan yang satu itu. Seperti misalnya, apakah memang layak seseorang merasa cemburu kepada orang lain, sementara belum ada ikatan pernikahan satu sama lain. Berkaca pada kisah Aisyah dan Rasulullah di atas, saya menganggap wajar jika Aisyah merasa cemburu terhadap Rasulullah, sebab bukankah beliau memang suaminya. Ketika seorang pria dan wanita saling berikrar setia dalam suatu ikatan pernikahan, dimana Allah telah menjadi saksinya, maka secara otomatis kedua belah pihak (suami dan istri) seakan telah secara resmi melakukan transformasi hak atau kewenangannya satu sama lain. Maksudnya, sang wanita telah memiliki hak atas sang pria karena telah menjadi istrinya. Begitu juga sebaliknya, sang pria memiliki hak atas sang wanita, karena telah menjadi suaminya. Sehingga keduanya layak untuk cemburu ketika ada suatu hal atau kewenangan yang merasa telah terlanggar atas salah satu atau keduanya.

Pikiran semacam itu terkadang muncul karena bagi saya, pada kenyataannya, cemburu tidak jarang telah mendapatkan stigma dan konotasi yang selalu negatif sebagai bentuk ekspresi dan refleksi yang tidak pada tempatnya, saling curiga, dan sebagainya. Terlebih jika itu terjadi pada orang yang memang belum memiliki hak atas orang yang ia cemburui.

Saya dapat mengerti, bahwa perasaan itu datang dikarenakan kondisi kejiwaan dan pikiran yang dipicu oleh beberapa faktor. Tapi dari sekian banyak faktor, biasanya faktor cinta dan rasa ketertarikan lah yang paling utama menjadi pemicu. Lalu kalau sudah terjadi seperti itu, lantas apakah dilarang dalam agama? Menurut saya tidak menjadi salah jika kecemburuan itu ditempatkan sesuai pada tempatnya. Tidak secara berlebihan atau bahkan malah akan merugikan pihak-pihak tertentu yang sebetulnya tidak terkait atau berkepentingan. Dalam sebuah buku yang pernah saya baca (saya lupa judulnya), ditulis oleh Imam Ibnul Qayyim, beliau menganjurkan kepada para muslimah untuk meniru karakteristik bidadari surga yang berhati suci. Sebagaimana disebutkan Allah dalam firman-Nya: “dan untuk mereka di dalamnya terdapat istri-istri yang suci.” (QS. Al Baqarah: 25). Yaitu dengan membangun kejiwaan yang bersih dari perasaan cemburu yang tidak pada tempatnya. Terlebih jika cemburu itu ditujukan pada seseorang yang belumlah menjadi halal baginya.

Namun, sebenarnya tidak semua cemburu itu membawa kesengsaraan dan tidak terpuji. Sebab rasa cemburu merupakan suatu potensi kejiwaan yang bila dipakai dan dikelola pada tempatnya secara wajar justru akan menjadi kontrol positif dan bukan menjadi sikap negatif yang tidak produktif. Wanita yang paling mulia dan yang paling luhur cita-citanya adalah mereka yang paling pencemburu pada tempatnya. Maka sifat seorang beriman yang cemburu (ghoyyur) pada tempatnya adalah sesuai dengan sifat yang dimiliki oleh Rabb-nya. Siapa yang mempunyai sifat menyerupai sifat-sifat Allah, maka sifat tersebut akan membawanya ke dalam perlindungan Allah dan mendekatkan diri seorang hamba kepada rahmat-Nya. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu memiliki sifat cemburu dan orang-orang beriman juga memilikinya. Adapun rasa cemburu Allah ialah ketika melihat seorang hamba yang mengaku dirinya beriman kepada-Nya melakukan sesuatu yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari dan Nasa’i).

Nah... jadi untuk mengubah rasa cemburu itu menjadi kumpulan energi positif, mengapa tidak kita ubah saja perspektif kecemburuan itu menjadi lebih luas, tidak terbatas hanya pada cemburu yang berlatarbelakang perasaan cinta lawan jenis semata. Sebab jika cara pandangnya sempit, hanya berkutat karena masalah cinta saja, biasanya itu cenderung akan membawa pada kemudharatan daripada manfaat. Tidak sedikit mereka yang merasakan cemburu kepada orang yang ia cintai, pada akhirnya malah membawanya kepada perasaan benci, iri, dan dengki pada pihak ketiga yang mungkin saja sebenarnya dia tidak tahu apa-apa duduk permasalahan yang sebenarnya. Misalnya, ada seorang pria cemburu kepada wanita yang ia cintai, sementara mereka berdua bukanlah pasangan suami-istri. Sang pria cemburu karena ia memiliki perasaan bahwa wanita pujaannya itu merasa lebih tertarik pada pria lain dibanding dirinya. Akhirnya sang pria yang cemburu itu pun malah menjadi benci, iri, dan dengki pada pria yang "dikagumi" oleh wanita yang ia cintai tadi. Sementara pria yang dikagumi oleh wanita tadi, sebenarnya tidak memiliki kepentingan apa pun dalam hubungan mereka berdua, bahkan tidak pernah tahu tentang perasaan "kagum" dari sang wanita tadi.

Yang jelas, ketika ada seseorang yang merasa kagum atas orang lain, tentulah itu dikarenakan orang tersebut memiliki nilai lebih. Entah apa pun itu, yang pasti ia memiliki banyak hal yang postif dan mungkin jarang atau tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Maka mengapa perasaan cemburu itu tidak kita arahkan saja agar menjadi penyemangat kita supaya lebih baik dari orang yang memiliki nilai lebih tersebut. Secara hubungan antar sesama manusia, tidak ada yang lebih berperan terhadap kualitas diri seseorang melainkan diri orang itu sendiri. Lingkungan, keluarga, teman-teman, atau orang-orang terdekat dalam hidup mungkin bisa menjadi pendorong, tetapi pada akhirnya tetap kita sendiri yang harus berbuat dan mengambil keputusan, bukan?

Ikhlas lah ketika kita tahu ada orang yang lebih bernilai dari kita. Lalu jangan menjadi pencemburu kalau hanya berhenti sampai jadi pencemburu semata. Akan tetapi segera sambut rasa cemburu tadi dengan usaha keras yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas diri kita. Membuat kita jadi lebih bernilai dari orang lain. Bersikaplah cemburu kepada sifat-sifat positif dari orang lain, bukan pada pribadi orangnya. Sebab, kalaupun rasa cemburu itu bermula dan akhirnya bermuara kepada sebuah perasaan yang bernama cinta, pada hakikatnya seseorang tentu ingin mendapat yang terbaik bagi dirinya. Namun keinginan itu tentunya juga harus diimbangi dengan upaya yang dapat menjadikan dirinya seberkualitas seperti orang yang ingin dia dapatkan itu. Sangatlah tidak adil ketika seseorang menginginkan yang terbaik bagi dirinya, sementara ia sendiri tidak pernah berusaha membuat dirinya menjadi yang terbaik.

Sabtu, 21 November 2009

Seni Hidup Susah

"Mendidik seorang anak yang setelah dewasa siap menjadi orang miskin jauh lebih sulit daripada mendidik anak yang setelah dewasa siap menjadi orang kaya." Begitulah kalimat yang pernah diucapkan ayah saya. Sampai sekarang, rasanya masih terngiang-ngiang sekali dalam benak saya kalimat tersebut saat pertama kali keluar dari mulut ayah. Waktu itu adalah ketika saya kelas 6 SD. Saat itu mungkin saya belum cukup dewasa, tapi saya cukup bisa mencerna perkataan ayah saya. Sesaat setelah mendengarkan kalimat itu keluar dari lisan ayah, seolah saya telah mendapatkan jawaban atas apa yang sering saya alami di masa yang sudah lalu. Ya... saya kira itulah sebabnya kenapa selama ini ayah mendidik saya cukup "keras".

Mulai dari kecil saya tidak pernah dibiasakan mendapatkan segala sesuatu yang saya inginkan dengan cara mudah, walaupun saya tau ayah pasti dapat memberikannya dengan mudah kalau beliau mau. Terkadang saya pun sering mengeluh dan bercerita pada ibu saya, kok kenapa kalau ingin ini ingin itu rasanya sulit sekali memintanya. Apalagi kalau keinginan itu yang bersifat hiburan atau kesenangan semata. Tapi lain halnya kalau soal pendidikan, ayah pasti tanpa pikir panjang akan langsung mengeluarkan isi dompetnya begitu saya memintanya. Sebagai anak-anak, waktu itu, tentu saya tidak pernah terfikir bahwa itu adalah pola pendidikan yang ayah terapkan pada saya dan adik-adik saya. Sering kali perasaan yang saya rasakan saat itu hanya sebuah kekecewaan semata tanpa ada nilai pendidikan yang bisa saya ambil. Tapi seiring berjalannya waktu, semakin bertambah dewasanya usia saya, maka saya pun semakin bisa berfikir dan merenungi setiap kejadian yang saya alami di masa lalu itu. Sampai akhirnya saya sadar betul bahwa sebenarnya itu semua hanya cara ayah saya dalam mendidik anak-anaknya, persis seperti ungkapan kalimat yang saya tulis di awal paragraf di atas.

Sebagai contoh saja, ketika saya SD, saya tidak pernah diantar-antar dengan orangtua sebagaimana layaknya anak-anak, kecuali 6 bulan pertama saat saya pertama kali masuk SD, saya sering diantar jemput oleh ibu. Dari rumah saya harus jalan kaki sampai depan komplek rumah yang jaraknya sekitar 800 meter. Lalu dilanjutkan naik angkot yang jaraknya sampai sekolah kira-kira 8 KM. Padahal saat itu mungkin bisa saja ayah saya mengantar saya sebelum berangkat ke kantor dengan mobilnya. Saya diberi uang saku secukupnya bahkan waktu itu terbilang kecil jika dibandingkan dengan uang saku teman-teman saya yang lain. Bayangkan! Saya hanya diberi Rp. 500,-. Untuk naik angkot pulang pergi Rp. 200,-. Uang segitu saat itu memang bernilai cukup besar, dan sisa uang Rp. 300,- masih bisa untuk jajan makanan kecil. Itulah sebabnya sejak kecil saya jadi suka cari akal bagaimana caranya bisa dapat uang jajan lebih tanpa harus minta orangtua. Ya waktu itu yang terfikir adalah dengan cara jualan dan mengajari teman pelajaran sekolah dengan imbalan traktir jajan dari mereka.

Pengalaman-pengalaman seperti itu terus saya alami sampai saya SMA, bahkan saat kuliah. Saya tidak pernah merasa bahwa apa yang saya peroleh itu didapat dengan cara yang mudah. Semuanya serba harus dengan perjuangan di tengah fasilitas yang terbatas. Tapi efek dari pendidikan ayah saya tersebut, dapat saya rasakan manfaatnya dari waktu ke waktu. Hingga akhirnya saya menjadi sangat bersahabat dengan yang namanya kesulitan dan kegagalan. Bahkan saat ini terkadang saya malah suka menyengaja diri saya agar terlibat dalam kesulitan, walaupun sebenarnya saya tau cara yang mudahnya. Misalnya, ketika SMA saya mulai diberikan ayah sebuah motor untuk transportasi pulang pergi dari sekolah, tempat les, dan rumah. Tapi walaupun begitu, saya malah lebih sering memarkir motor saya di garasi rumah, dan berangkat ke sekolah atau tempat les dengan berjalan kaki dan naik angkot. Beberapa teman saya menganggap saya aneh dengan tingkah yang seperti itu. Tapi itulah cara saya dalam mendidik diri saya sendiri. Menurut kamu, apakah sebenarnya yang ada di benak para pecinta alam yang sering naik turun gunung, menyusuri sungai, bahkan tidur hanya beralaskan rumput dan beratapkan langit saja. Mengapa mereka mau mempersulit diri mereka sendiri dengan tidur di hutan belantara yang serba gelap, udaranya dingin, bahkan tidak lepas dari ancaman binatang buas. Sementara mereka sebenarnya bisa saja tidur di atas kasur yang empuk, atau nonton TV sambil mengemil makanan ringan. Mengapa mereka malah memilih yang sulit daripada segala kemudahan? Pemikiran seperti itulah yang sering saya gunakan. Justru dari kesulitan yang dihadapilah manusia akan belajar. Dia tidak akan pernah belajar sesuatu yang berharga jika dia terbiasa dengan segala sesuatu yang enak dan mudah dia dapatkan.

Coba kita perhatikan sebuah pohon. Terpaan angin kencang dengan mudah akan dapat menumbangkan pohon-pohon yang rapuh dan berakar dangkal. Tetapi sebaliknya, terpaan angin kencang yang sama justru akan memperkuat pohon-pohon yang kokoh dan berakar dalam. Dalam kehidupan sehari-hari, 'terpaan angin kencang' berupa masalah, kegagalan, beban kehidupan, konflik, dan berbagai hal negatif lainnya dapat dengan mudah menghancurkan orang-orang rapuh yang tidak memiliki semangat juang dan menjalani hidup tanpa tujuan. Sebaliknya, kesulitan-kesulitan yang sama justru akan dapat memperkuat orang-orang yang memiliki semangat juang tinggi, dengan tujuan hidup yang pasti, serta keteguhan hati yang kuat.

Setiap orang pastilah pernah mengalami kesulitan dalam hidupnya, kondisi–kondisi genting  atau bahkan  saat–saat kritis dalam hidupnya. Kebanyakan orang sangat tidak menyukai atau bahkan membenci hal tesebut. Namun sering tanpa kita sadari bersama, bahwa justru hanya dalam keadaan kritis seperti itulah diri kita baru dapat mengeluarkan kemampuan yang sesungguhnya dan tumbuh menjadi individu yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Setiap orang pastilah pernah mengalami hal tersulit dalam hidupnya, tetapi yang membedakan antara orang gagal dan berhasil adalah respon atas tindakan dari hal yang mereka alami. Jika kita dapat mengambil manfaat atas hal buruk atau kritis yang menimpa kita, maka niscaya kita kelak akan menjadi sukses di kemudian hari. Saya memang belum merasa telah ada pada suatu titik yang disebut kesuksesan. Sebab pada hakikatnya yang layak menilai seseorang sukses atau tidak tentulah harus orang lain, bukan diri sendiri. Tapi setidaknya, lewat apa yang sudah ayah saya ajarkan kepada saya. Kemudian serangkaian usaha yang saya lalukan sesuai dengan pandangan hidup saya tentang hidup itu sendiri, telah menjadikan saya seorang Dimas yang sekarang ini.

Minggu, 08 November 2009

Inilah Aku Si Raja Gagal

Cukup banyak teman yang mengatakan bahwa saya adalah orang yang 'beruntung'. "Wah... Dimas keren ya bisa dapet beasiswa ke Jepang", kata seorang teman. "Wah... hebat, masih muda tapi udah bisa ngehasilin duit sendiri", kata teman yang lain. Juga banyak pernyataan sejenis yang saya dengar langsung atau dari pihak ketiga. Ahh.... seandainya mereka semua tau bahwa apa yang saya peroleh, impian-impian saya itu, juga apa yang menjadi hasrat hidup saya tidak semudah itu saya peroleh, seperti yang mereka kira. Kalau dihitung-hitung, mungkin saya termasuk salah satu orang yang paling sering gagal. Iya betul... paling sering gagal alias si raja gagal.

Barangkali perlu saya ceritakan beberapa kisah kegagalan yang pernah saya alami. Sebenarnya sih banyak banget, tapi kalau saya ceritakan semua, malu juga sih... masak aib sendiri dibuka-buka sih?! Hehehe...! Walaupun yang namanya kegagalan, kalau disikapi dari sudut pandang positif bisa menjadi penyemangat, tapi ya tetap saja kurang menyenangkan juga kalau diketahui banyak orang. Ya nggak? Hehe...

Hmmm... banyak orang yang mengira bahwa saya memiliki otak jenius mirip Einstein. Padahal sebenarnya IQ saya tidak lebih dari 110 saja. Angka itu saya ketahui setelah mengikuti tes psikologi dan IQ saat masih SMA dulu. Nilai 110 itu jika dikategorikan sebenarnya hanya masuk kategori di atas rata-rata saja, sama sekali bukan jenius. Saya juga orang yang malas untuk belajar dengan sistem konvensional. Saya pasti akan langsung kabur jika harus belajar berjam-jam dengan duduk diam saja di belakang meja sambil membaca setiap susunan kalimat dalam buku. Bukan karena saya pemalas, hanya saja cara seperti itu bukan cara belajar saya.

Saya memang telah mewujudkan impian saya yang ke 48. Impian itu adalah ingin merasakan pendidikan di Negeri Para Samurai. Tapi sungguh perjalanan untuk mewujudkan itu tidaklah mudah. Sebenarnya impian agar suatu saat bisa ke Jepang itu bukan untuk belajar sih, tapi sekedar main-main saja. Hehehe...! Tapi kemudian saya merenung kembali. Ah masak sih pergi jauh-jauh kok tidak bisa membawa sesuatu yang bisa bermanfaat? Kalau sekedar jalan-jalan sih mungkin mudah, semua orang bisa melakukan. Tapi kalau sambil belajar, mungkin ada nilai tambah yang bisa diambil manfaatnya. Akhirnya saya ubah misi ke Jepang dengan kalimat "merasakan belajar di Jepang".

Saya menyadari bahwa ayah saya saat itu sepertinya tidak cukup mampu kalau harus membiayai kuliah saya di luar negeri dari kocek pribadi. Apalagi ayah tau betul biaya hidup di Jepang tinggi sekali, karena beliau pun dulu pernah kuliah di Jepang dengan beasiswa pemerintah. Jadi saya pikir satu-satunya jalan untuk mewujudkan mimpi itu adalah dengan mendapat beasiswa juga seperti ayah saya.

Perjuangan pertama saya untuk mewujudkan impian itu dimulai ketika saya kelas 2 SMA. Saat itu ada program pertukaran pelajar SMA yang disponsori oleh AFS (American Field Service), sebuah lembaga non profit kerjasama pemerintah Indonesia dengan pemerintah Amerika Serikat yang bergerak di bidang pertukaran budaya. Saat itu saya dan beberapa teman ikut seleksi. Seleksinya sendiri diadakan di seluruh Indonesia, kemudian 5 orang yang terpilih akan dikirim ke Jepang untuk mengikuti program pertukaran belajar selama 3 bulan di SMA Jepang. Dari SMA saya ada 8 orang yang ikut seleksi itu, saya salah satunya. Seleksinya meliputi tes pengetahuan umum, tes bahasa Jepang, dan tes wawancara. Singkat cerita, saya gagal dalam seleksi. Entah di bagian tes yang mana saya gagalnya, yang jelas saya gagal. Akhirnya teman se-SMA saya lah salah satu peserta seleksi yang lulus dan berangkat ke Jepang. Huh... baiklah, itu kegagalan saya yang pertama untuk mewujudkan impian belajar di Jepang. Tapi dunia belum kiamat, walau sedikit kecewa, saya tidak mau berhenti sampai di sana.

Setahun kemudian saya pun lulus dari SMA. Sebelum kelulusan saya diberitahu oleh wali kelas tentang program saringan masuk universitas Jepang melalui tes EJU (Examination for Japanese University). Wow... tentu saja saya berminat mengikutinya. Kata wali kelas waktu itu, "kalau mau, kamu bisa ikut, tesnya di Jakarta. Nanti kalau nilai tesnya bagus, bisa sekalian dapat beasiswa." Saya pun ikut tes EJU. Tesnya berupa tes Kemampuan Bahasa Jepang, Matematika, Biologi, dan Fisika. Tak diduga ternyata salah satunya ada tes Kemampuan Bahasa Jepang. Tentu saja saya tidak bisa mengerjakannya dengan baik, karena waktu itu pengetahuan Bahasa Jepang saya lemah sekali. Walaupun dulu saya pernah tinggal di Jepang cukup lama ketika ayah kuliah di Jepang, tapi itu waktu kecil, sudah banyak yang lupa. Setelah kira-kira 1 bulan, hasil ujiannya pun dikirim ke rumah. Seperti yang sudah saya duga sebelumnya, saya tidak lulus seleksi. Saya menduga mungkin karena nilai tes Bahasa Jepangnya yang kecil. Karena bobot nilai untuk tes itu merupakan yang paling besar. Tapi ya sudah lah... itu untuk yang kedua kalinya saya gagal. Tapi apakah saya lantas berhenti? TIDAK!!! Saya masih ngotot untuk bisa mewujudkan mimpi saya.

Karena sudah tidak ada kesempatan lain lagi pada tahun itu, akhirnya saya memutuskan ikut SPMB saja. Lalu diterima lah saya di UGM. Selama setahun saya mengikuti perkuliahan di sana. Di tahun berikutnya, saya kembali ikut tes EJU. Berbekal pengalaman kegagalan yang saya alami di tahun yang lalu, maka saya pun mempersiapkan kemampuan Bahasa Jepang saya dengan ikut kursus selama setahun ke belakang. Sesaat setelah saya ikut tes EJU, ternyata ada informasi beasiswa Monbukagakusho dari Pemerintah Jepang. Wah... saya pikir ini adalah kesempatan lagi, maka saya putuskan juga untuk mengikutinya. Tak lama kemudian, hasil tes EJU kembali dikirim ke rumah. Jreng... jreng... jreng... lalu apakah kali ini saya lulus? Jawabannya ternyata TIDAK, pemirsa! Haduh... hampir frustasi rasanya saat itu. Padahal selama setahun belakangan saya merasa sudah mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk tes EJU di tahun berikutnya. Lalu kemudian saya teringat kalau saya masih punya satu amunisi lagi, beasiswa Monbukagakusho. Tak henti-hentinya saya terus berharap, berdoa, dan berusaha agar amunisi yang terakhir itu bisa mengenai sasaran.

Karena prestasi saya di UGM agak mengecewakan karena saat itu malah lebih fokus cari duit sendiri daripada kuliah. Lalu dengan bermodalkan percaya diri tingkat tinggi bahwa seleksi Monbukagakusho bisa lulus, saya memutuskan berhenti kuliah di UGM. Tapi lama-lama agak khawatir juga, mengingat saya sudah 2 kali gagal tes EJU, lalu bagaimana jika tes Monbu juga gagal, bisa-bisa malah tidak kuliah sama sekali. Akhirnya untuk jaga-jaga, saya ikut SPMB lagi, kemudian lulus lagi dan diterima di Unpad. Tak lama setelah pengumuman hasil SPMB, pengumuman beasiswa Monbu pun datang. Hayo tebak, apakah kali ini saya gagal lagi? Hohoho.... masak sih kali ini gagal lagi. Yak... alhamdulillah kali ini saya berhasil, pemirsa! Tapi beasiswa itu untuk keberangkatan tahun depannya. Dan untungnya saya sudah diterima di Unpad, jadi ya sambil menunggu keberangkatan, jadi tidak nganggur-nganggur amat kan. Hehehe...

Itu dia sedikit cerita kegagalan saya dalam mewujudkan mimpi ke-48. Apa yang saya ceritakan itu adalah kegagalan dari satu bidang saja lho. Masih banyak lagi serangkaian proses kegagalan yang pernah saya alami selain yang saya ceritakan di atas.

Lewat cerita di atas, saya sebenarnya hanya ingin memberikan motivasi pada teman-teman semua. Peristiwa demi peristiwa silih berganti, Selesai satu persoalan muncul persoalan yang lain, Ada yang menyenangkan tetapi juga banyak yang terasa pahit. Demikianlah kita menyikapi kegagalan yang dihadapi. Di balik kegagalan sebenarnya kita sudah menemukan beberapa kesuksesan. Hanya saja, kita lebih sering melihat hasil garis finish dari start. Padahal, tidak akan dapat mencapai finish kesuksesan tanpa melalui jalur start. Renungkalah ragam kehidupan kita, tidak ada yang mulus terus menerus menikmati kesuksesan. Andaikan seseorang tidak pernah mengalami kegagalan, maka mereka tidak akan merasakan apa yang disebut sukses. Atau kita berbaik sangka saja kepada Allah SWT, bahwa di balik kegagalan pasti ada rahasia besar yang ingin ditunjukkan kepada hamba-Nya ini.